3 Hal yang Saya Suka dari Surabaya tapi Belum ada di Jakarta

Dalam setahun ini saya menjadi cukup sering ke Surabaya. Dalam rentang waktu 9 bulan, saya sudah pergi ke Surabaya selama 3 kali. Urusan pertama adalah untuk menjadi moderator sekaligus pemakalah di Konferensi Nasional Psikologi di sebuah universitas swasta (sekaligus solo traveling), sedang kepergian saya ke Surabaya kedua kali adalah untuk menjadi narasumber dalam sebuah seminar psikologi, dan yang baru terjadi, saya baru saja kembali dari Surabaya usai menghadiri Konferensi Internasional Psikologi sebagai pemakalah juga.

Sebagai kota terbesar nomor 2 di Indonesia setelah Jakarta, saya sendiri memang tidak merasakan adanya kesenjangan yang besar antara kota Surabaya dengan Jakarta. Sama-sama banyak terdapat kendaraan yang lalu lalang melintas di jalan raya, sama-sama saya bisa menemukan gedung-gedung perkantoran yang bertingkat di pusat kota, dan sama-sama udaranya terasa panas (hehehe…).

Ada beberapa hal yang tidak ada di Surabaya, tetapi sudah ada di Jakarta, sehingga membuat saya bersyukur. Misalnya, keberadaan bus Transjakarta dan Mass Rapid Transit (MRT) yang sangat membantu kita berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya di dalam kota. Sebagai warga Jakarta saya tentu mensyukuri keberadaan moda transportasi umum ini. Tetapi, selama saya berada di Surabaya, saya menemukan beberapa hal yang ternyata sudah dimiliki Surabaya tetapi belum dimiliki di Jakarta. Tentu saja, saya berharap supaya Jakarta akan segera punya. Tulisan ini sengaja saya buat sebagai bentuk apresiasi saya kepada pemkot Surabaya yang sudah menata kota ini sedemikian rupa, tanpa bermaksud untuk menilai jelek kota kelahiran saya, Jakarta (toh ada juga beberapa kelebihan di kota Jakarta yang belum ada di kota Surabaya).

Dan ini tiga hal yang saya suka dari Surabaya tetapi belum ada di Jakarta:

1. Taman yang Nyaman di Berbagai Titik

Salah satu yang saya suka dari Surabaya adalah keberadaan taman! Ada banyak taman di Surabaya dan tiap taman tersebut nyaman untuk dikunjungi, baik sekadar untuk duduk-duduk saja atau sebagai tempat bertemu dengan teman. Dan, tamannya bukan asal taman belaka, tetapi taman-taman di Surabaya dilengkapi dengan tanaman-tanaman yang cantik sehingga memperindah pemandangan sekaligus menambah kesan teduh. Menarik!

Salah satu taman favorit saya adalah Taman Bungkul, yang merupakan taman terbesar di Surabaya. Meski berada di tengah kota, tetapi tempatnya asri karena terdapat banyak tumbuhan. Bagi yang senang berolahraga, ada jogging track yang dapat dimanfaatkan dan arena skate board. Bagi yang datang bersama anak atau keponakan, bisa memanfaatkan taman bermain anak yang juga tersedia.

Saya senang datang ke Taman Bungkul pada sore hari. Biasanya, kita bisa menemukan ibu-ibu penjaja pecel semanggi, makanan khas Surabaya yang sudah sangat langka. Harganya murah meriah dan lumayan untuk mengganjal isi perut, sambil melihat keceriaan anak-anak yang sedang bermain di taman.

Baiklah, Jakarta sebenarnya juga punya taman. Keberadaan taman di Waduk Pluit dan Kalijodo juga sebenarnya tak kalah dengan Taman Bungkul, tetapi jumlah taman seperti ini tidak banyak di Jakarta. Pun bila ada RPTRA (Ruang Publik Terpadu Ramah Anak), kini programnya sudah tidak dilanjutkan lagi oleh Pemprov Jakarta.

Moga-moga, pemerintah Jakarta juga mulai tertarik untuk mengembangkan taman-taman. Dengar-dengar, walikota Surabaya Ibu Risma membangun taman-taman ini dengan pertimbangan psikologi perkotaan, wih…

(Di sisi lain, Jakarta menang dalam keberadaan mall. Ada banyak mall di Jakarta dan setengah di antaranya tergolong mewah).

2. Air Minum di Ruang Publik

Terkait dengan banyaknya taman di Surabaya, salah satu fitur yang saya suka adalah ketersediaan keran air minum yang aman untuk dikonsumsi!

Sebenarnya awal-awal saya agak khawatir sih. Bagaimana kalau airnya ternyata terkontaminasi dan membuat saya mengalami masalah pencernaan? Ternyata setelah dicicipi, saya masih baik-baik saja.

Enaknya adalah, ketika saya berjalan kaki dan merasa haus, saya bisa mencari taman terdekat dan minum di sana. Enaknya lagi, tidak hanya di taman, di Gedung Siola yang berada di pusat kota juga terdapat sumber air minum gratis dari pemerintah ini! Air minum yang di Gedung Siola juga boleh diisi ke botol minum yang kita bawa sendiri. Jadilah saya senang berjalan kaki, karena bisa minum ketika haus.

Jujur, saya ingin sekali Jakarta juga bisa seperti ini. Air minum gratis bisa disediakan di taman atau terminal Transjakarta. Selain mendukung warga untuk menggunakan moda transportasi umum, pun mengurangi penggunaan botol plastik sekali pakai. Namun concern saya hanya satu: fasilitas umum ini harus dijaga baik-baik, jangan dibiarkan rusak atau tidak terawat.

3. Jembatan Penyebarangan dengan Lift!

Selama empat hari kunjungan di Surabaya, saya bolak balik di Jalan Jenderal Sudirman untuk menyelesaikan tugas saya. Jalan ini merupakan salah satu jalan terpenting dan pusat kota dari Surabaya.  Ketika saya hendak menyeberang jalan dengan jembatan penyeberangan, saya menemukan hal yang menarik: kita bisa menaiki jembatan dengan lift!

Jadi, kita tidak perlu capek-capek menaiki tangga jembatan. Lebih menghemat tenaga dan tidak membuat berkeringat, apalagi bila cuaca sedang panas. Kapasitas liftnya adalah 6 orang dan beroperasi sampai jam 9 malam saja (setelah itu harus naik tangga). Menurut saya ini keren sekali!

Memang sih, fasilitas lift ini hanya ada di jembatan penyeberangan yang berada di pusat kota, sedangkan di sudut kota lainnya masih belum ada. Tapi setidaknya ini sudah menjadi sebuah kemajuan yang baik. Sejauh ini di Jakarta saya belum menemui (Agustus 2019), semoga akan segera ada juga di jalan-jalan protokol Jakarta.

Jadi, Menang Jakarta atau Surabaya?

Artikel ini bukan bermaksud untuk mengatakan salah satu kota lebih unggul, sehingga tidak ada menang atau kalah. Memang, tiga hal yang saya sebutkan di atas adalah kelebihan yang dimiliki oleh Surabaya daripada Jakarta; tetapi ada juga hal-hal yang dimiliki Jakarta tetapi tidak dimiliki Surabaya. Tulisan ini hanya sebagai tanda apresiasi saya kepada Kota Surabaya, dan semoga bisa menjadi ide maupun inspirasi juga bagi kota-kota lain, terutama kota Jakarta 🙂

garvin

Ada 3 hal yang paling ia suka: budaya, sejarah, dan mendaki gunung. Ia dapat dihubungi melalui @garvingoei.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *