TLFL: Nasi Cumi Pasar Atom yang Terenak Se-Surabaya!

#TheLocalFoodLegend Kali ini saya berada di Surabaya. Mungkin memang sudah rezekinya, di kala saya memang sedang kangen-kangennya dengan nasi cumi Pasar Atom, ternyata saya mendapatkan penugasan ke Surabaya selama beberapa hari. Pas. Kesempatan ini tentu akan saya manfaatkan untuk kembali menyantap nasi cumi Pasar Atom.

Saya rasa belum sah pergi ke Surabaya kalau belum datang ke sini, demikian pernyataan saya saking sukanya saya dengan masakan di sini. Saya masih ingat pertama kali mengetahui tempat ini secara tidak sengaja: malam-malam saya iseng berkeliling mencari makanan, ternyata yang masih buka hanya kedai ini. Awalnya tidak yakin dan tidak tahu kalau tempat makan ini sangat populer. Saya mampir, pesan menu yang ada, dan ternyata… enak sekali!

Tempatnya hanya sederhana, sebuah tenda bertuliskan “Nasi Cumi-Cumi” di pinggir jalan. Karena letaknya di samping Pasar Atom, maka orang-orang menyebutnya nasi cumi Pasar Atom, padahal letaknya tidak berada di dalam Pasar Atom. Tempatnya kurang mencolok, oleh sebab itu harus jeli mencarinya atau dipandu oleh Google Maps supaya lebih mudah menemukannya.

nasi cumi surabaya

Walaupun hanya berupa tenda sederhana, tetapi kita bisa melihat bahwa tempat ini pernah didatangi oleh tokoh-tokoh nasional, terlihat dari foto-fotonya dipajang di sini. Menunya sederhana ala warung, dengan tiga macam paket:

  1. Nasi cumi biasa: hanya nasi, cumi hitam, dan rempeyek,
  2. Nasi campur: nasi putih, cumi hitam, empal, telur, tahu, rempeyek.
  3. Nasi komplit: nasi campur dengan tambahan paru dan babat.

Berhubung saya tidak suka dengan jeroan, maka saya memesan seporsi nasi campur untuk dimakan di tempat. Tak lama, seporsi nasi cumi campur langsung tersaji.

Tampilannya sederhana, tapi menggugah selera. Saya langsung santap cuminya bersama nasi. Cuminya empuk, nampaknya dimasak dengan kematangan yang pas sehingga bisa mendapatkan tekstur seempuk ini. Memasak cumi bukanlah hal yang mudah, sebab bila terlalu matang sedikit saja, maka dagingnya akan menjadi alot. Bisa memasak cumi dengan empuk adalah pertanda bahwa kedai ini sudah berpengalaman dalam mengolah cumi (dengar-dengar kedai ini sudah ada sejak 1917 dan penjualnya sekarang adalah generasi keempat!). Aromanya pun tidak amis. Empuk, tidak amis, dan gurih. Cuminya juara sekali.

nasi cumi pasar atom surabaya

Telurnya dimasak dengan cabai. Enak, tapi tidak ada yang istimewa. Pun dengan potongan tahu yang dimasak cabai, hati-hati karena rasanya cukup pedas. Sedangkan sepotong kecil empal yang disertakan juga rasanya biasa saja. Empuk, enak, tetapi tidak ada yang istimewa. Ditambah dengan rempeyek yang renyah dan meningkatkan selera. Sebenarnya di menu tertulis rempeyek udang, tetapi saya tidak menemukan potongan udang sama sekali.

(btw, kenapa disajikannya harus pakai piring Hello Kitty, ya :P)

Juaranya memang di cuminya. Dan meski lauk lainnya biasa saja, namun kelezatan cuminya membuat saya berkali-kali mengunjungi tempat ini, bahkan bisa dikatakan nasi cumi Pasar Atom adalah salah satu makanan terenak di Surabaya! Cukup nasi hangat dengan cumi hitamnya saja sudah enak sekali!

Tapi dari berbagai review yang saya baca tentang tempat ini, banyak yang mengeluhkan pelayanannya. Memang, mereka melayani pembeli tanpa senyum dan terkesan cuek, tetapi menurut saya ini tidak terlalu masalah. Lagipula, untuk street food, tentu kita tidak mengharapkan pelayanan sekelas restoran kan?

nasi cumi pasar atom

Legendaris dan enak! Itu pendapat saya mengenai tempat makan yang sudah ada sejak 1917 ini. Harganya, Rp25ribu untuk nasi campur. Harganya masih oke, namun porsinya memang kecil. Mungkin harus makan 2 porsi baru bisa benar-benar kenyang. Tapi bagi saya tidak masalah, karena artinya perut saya masih menyimpan ruang untuk bakmie Kembang Jepun yang tidak jauh dari sini, hehehe…

Menurut saya, tempat ini adalah tempat makan yang benar-benar wajib didatangi kalau sedang mampir di Surabaya! Kabar baiknya, tempat ini buka 24 jam sehingga bisa didatangi kapan saja. Saya berikan empat bintang!

  • Rasa: juaranya ada pada cumi yang empuk dan gurih. Cumi hitam terlezat yang pernah saya cicipi. Lauk lainnya biasa saja.
  • Tempat: hanya berupa tenda sederhana di pinggir jalan, tetapi tergolong bersih. Cukup dekat dengan pusat kota.
  • Harga: cukup OK. Rp25ribu (harga per Agustus 2019) untuk nasi cumi campur dengan porsi yang cukup kecil.
  • Catatan Lain: buka 24 jam

garvin

Ada 3 hal yang paling ia suka: budaya, sejarah, dan mendaki gunung. Ia dapat dihubungi melalui @garvingoei.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *