Nasi Campur Lay-Lay, Salah Satu Favorit Saya di Jakarta

Bicara soal nasi campur, maka kita akan berbicara mengenai berbagai tempat makan yang diandalkan oleh masing-masing orang. Ada teman saya yang sangat menjagokan nasi campur Atek di Jelambar, ada juga yang megatakan bahwa nasi campur Angkasa di Jalan Kopi adalah yang terbaik, atau ayah saya yang hanya mau makan nasi campur Ayong / Hari-Hari di Terusan Bandengan. Meskipun semua hidangan itu secara sekilas terlihat mirip, tetapi tekstur dan citarasanya memang berbeda.

Saya tidak berani mengatakan mana nasi campur yang terenak; tetapi tiga yang disebutkan di atas memang menjadi tempat makan nasi campur yang saya rekomendasikan. Tapi selain tiga di atas, ada satu tempat makan nasi campuryang jarang disebutkan padahal rasanya tergolong istimewa dan sudah berjualan puluhan tahun.

Jika Anda pengunjung setia Taman Makan Minum (foodcout) Chandra, mungkin Anda sudah tahu, yakni nasi campur Lay-Lay.

Ya, di gedung perbelanjaan tua ini terdapat nasi campur yang menurut saya patut diacungi jempol. Dari segi branding mungkin tidak sehebat nasi campur Kenanga, Atek, atau Kacamata; tapi dari segi rasa menurut saya sangat istimewa. Sempatkanlah datang ke sini di jam makan siang, seperti yang saya lakukan jika sedang ingin makan nasi campur enak.

Waktu itu saya memesan nasi hainam campur. Sang juru racik langsung memotong berbagai macam masakan daging dan menatanya di atas piring, kemudian diserahkan kepada sang pelayan untuk dibawakan ke meja saya. Dari piringnya saja sudah terlihat bahwa varian dagingnya ramai sekali: babi panggang asin (siobak), babi panggang merah (charsiu), ayam panggang, bebek panggang, ngohiong (semacam rolade babi), sate babi, dan setengah butir telur rebus kecap. Di atasnya disiram dengan saus manis, ditaburi sedikit bawang putih goreng, dan diberikan setengah buah jeruk kunci jika Anda menginginkan sedikit aroma sitrus. Lauknya beraneka-ragam.

Nasi hainamnya memang tidak semantap aroma nasi hainam Apollo, tetapi yang membuat saya menjagokan nasi campur Lay-Lay memang bukan nasinya. Keragaman dan citarasa lauknya yang saya unggulkan. Pertama-tama, siobak-nya garing. Sejauh ini saya jarang mendapatkan siobak yang masih garing di Jakarta, mungkin hanya bisa disebutkan beberapa: Epenk (ini jelas), Sedap Wangi, dan Angkasa. Komposisi antara kulit garing, daging, dan lemaknya pun cukup seimbang; sehingga dalam satu potongan daging saya mendapatkan berbagai tekstur: garing dari kulit, empuk dari daging, dan juicy dari lemak. Selain itu, charsiu-nya juga padat. Mungkin ini sedikit subjektif, karena saya tidak menyukai charsiu yang terlalu berlemak. Menurut saya, jika tidak bisa membuat charsiu yang garing dan meleleh di mulut seperti Ayong, setidaknya buatlah charsiu yang padat seperti ini. Siobak dan charsiu menjadi nilai plus di sini.

Tapi tidak hanya itu, bebek panggangnya juga enak. Pastinya tidak amis dan teksturnya empuk. Jika saya menilai bebek panggang Sedap Wangi adalah yang terenak untuk kategori rumah makan, maka bebek panggang Lay-Lay saya nilai terenak nomor dua. Selain itu, potongan ayam yang disajikan di sini bukan ayam rebus, melainkan ayam panggang yang dipanggang seperti bebek. Dilihat dari atas memang mirip, tetapi begitu masuk mulut, rasanya langsung beda. Ayamnya empuk dan dibumbui dengan baik.

Kehadiran ngohiong dan sate babi membuat piring terlihat semakin ramai. Sate babinya empuk dan gurih. Rasa yang dominan adalah manis asin, dengan aroma ketumbar yang cukup dominan tapi pas. Potongan dagingnya tebal dengan sedikit lemak sehingga kombinasinya jadi tepat: empuk daging dengan sedikit juicy dari lemak. Mungkin yang agak mengecewakan adalah ngohiong-nya, menurut saya terlalu banyak tepung sehingga teksturnya terlalu kenyal dan rasa dagingnya kurang terasa, tetapi menurut saya bukan masalah besar karena lauk-lauk lainnya juga enak sekali.

Seenak itu? Ya, Lay-Lay menjadi salah satu penjual nasi campur favorit saya. Mungkin bukan yang terbaik dalam berbagai aspek (misalnya, untuk nasi hainam saya menjagokan Apollo, untuk siobak saya menjagokan Epenk, untuk charsiu saya menjagokan Ayong, dan untuk bebek saya menjagokan Sedap Wangi). Tapi Lay-Lay justru masuk ke kategori terbaik kedua atau terbaik ketiga untuk setiap komponen tersebut, sehingga jika Anda ingin makan nasi campur yang hampir semua komponennya terjamin enak, Lay-Lay tempatnya. Apalagi komponen lauknya bisa dikatakan lengkap.

Soal harga, lagi-lagi tergolong “bagus”. Untuk nasi campur seenak dan selengkap ini, harganya hanya Rp50.000 (harga per Desember 2020). Biasanya hidangan selengkap ini sudah menembus Rp60.000. Tapi lagi-lagi Lay-Lay memang menjadi tempat makan yang “unggul dan seimbang” dalam berbagai aspek, sampai-sampai ke harga.

Saya sangat merekomendasikan tempat ini bagi Anda. Jika Anda sedang berada di seputar Glodok, cobalah untuk mampir.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *