Aneka Jaje (Jajanan Pasar) Khas Bali yang Wajib Dicoba!

Bicara tentang kuliner Bali, mungkin orang-orang lebih familiar dengan nasi campur, lawar, ayam betutu, dan sate lilit. Selain hidangan-hidangan berat tersebut, kuliner Bali juga terdiri dari aneka makanan ringan yang oleh warga lokal Bali sebut sebagai jaje atau jajan pasar. Jaje ini memang tidak mudah ditemukan, sebab rumah makan yang terkenal justru lebih sering menyajikan makanan berat ala Bali atau masakan khas Barat. Padahal jaje ini tak kalah enaknya dengan kudapan-kudapan khas Barat dan lebih memiliki nilai autentik.

Tempat termudah untuk menemukan jaje adalah di Pasar Ubud, tetapi harus pagi hari sebelum jam 9. Dari subuh, para pedagang jaje sudah memenuhi pasar. Ada laklak, bendu, pasung, dan sebagainya.  Oh iya, harga jaje di sini sudah cukup mahal karena para pedagang tahu yang mengunjungi Pasar Ubud sebagian besar adalah wisatawan. Oleh karena itu ada tips bagi yang ingin berburu jaje di Pasar Ubud: semakin dalam anda masuk ke pasar, semakin murah harga jaje akan ditawarkan. Saya sudah membuktikannya sendiri.

pasar ubud pagi hari

Bagaimana bila Ubud bukan destinasi anda? Salah satu tempat yang saya rekomendasikan adalah Liligundi Warung Jaje Bali yang terletak di Denpasar (baca review-nya di sini). Tempatnya sederhana namun luas, autentik tapi juga “masuk” dengan generasi milenial yang lebih suka tempat-tempat yang instagrammable.

lilgundi warung jaje bali

Atau seperti saya, datangi kedua tempat tersebut, dan coba berbagai jaje khas Bali yang autentik dan sulit ditemukan di bagian Indonesia lainnya. Memang, jaje ini sedikit banyak terpengaruh oleh budaya Jawa, misalnya penggunaan kelapa parut dan kinca (gula merah cair) yang umum ditemui dalam hidangan jaje. Atau laklak yang mirip dengan surabi dan jaje giling yang mirip dengan cenil. Hal ini tentu tidak terlepas dari sejarah orang-orang Jawa yang melarikan diri ke Bali pada masa kehancuran Hindu-Buddha di tanah Jawa. Selain membawa ajaran Siwa-Buddha, tentunya mereka juga membawa budaya mereka seperti kuliner dan kemudian berkembang di sana.

Jadi, jaje apa saja yang harus dicoba ketika berada di Bali?

1. Laklak

laklak

Di antara berbagai jaje yang ada, mungkin laklak yang paling terkenal. Cukup mudah ditemui karena sering dijual di pinggir-pinggir jalan. Laklak sendiri merupakan hidangan yang dijuluki sebagai serabi khas Bali, karena memang memiliki banyak kemiripan. Bedanya, laklak berwarna hijau akibat penggunaan daun suji. Biasanya dihidangkan dengan parutan kelapa dan siraman saus kinca.

2. Giling

Teksturnya kenyal, berbentuk panjang seperti mie, dan dibuat berwarna-warni. Ketika saya tanyakan, sang penjual menyebut makanan ini sebagai “jaje giling”. Baik dari segi rasa maupun tekstur memang mirip sekali dengan cenil. Nyaris tidak ada perbedaan lain selain bentuk.

3. Bendu

jaje bendu

Bendu adalah kue yang terbuat dari tepung beras yang sudah disangrai. Efeknya, teksturnya menjadi lebih renyah dan rasanya menjadi lebih gurih. Di dalamnya juga ada isian gula merah yang memberikan rasa manis dan aroma harum gula merah. Bendu biasanya disajikan dalam upacara-upacara Bali dan kini mulai langka. Meski demikian, saya masih berhasil menemukannya di Pasar Ubud. Rasanya enak!

4. Pasung

jaje pasung

Sekilas mirip kicang, sebab bentuknya segitiga. Jaje pasung terbuat dari tepung ketan kukus yang kemudian diisi dengan gula merah. Rasanya manis! Dan meski penampilannya mirip kicang, tetapi rasanya berbeda karena pasung terbuat dari tepung ketan sedangkan kicang terbuat dari ketan.

5. Sumping Waluh

jaje sumping waluh

Jaje sumping waluh ini merupakan salah satu jaje favorit saya. Konsepnya mirip sekali dengan kue nagasari khas Jawa, sama-sama berbahan dasar tepung beras dan dikukus. Bedanya, kue nagasari memiliki isian pisang sedangkan sumping waluh diisi dengan buah labu (waluh). Karena menggunakan labu, rasanya jadi unik dan manis. Sumping waluh biasanya dibungkus dengan daun pisang dan tidak dilengkapi lagi dengan parutan kelapa maupun kinca. Khusus sumping waluh ini saya hanya menemukannya di Pasar Ubud.

6. Waluh

jaje waluh

Waluh adalah sebutan untuk buah labu dalam Bahasa Bali. Jaje waluh artinya adalah jajanan labu, dalam hal ini buah labu yang dikukus, dipotong dadu, kemudian disajikan dengan parutan kelapa. Meski sederhana, tapi jaje waluh menjadi salah satu jaje favorit saya. Rasanya manis segar dan teksturnya empuk juicy. Enak!

Akankah Lestari?

Pertanyaannya sama seperti ketika saya mencicipi kuliner-kuliner tradisional khas daerah, akankah aneka hidangan ini akan bertahan di tengah gerusan kuliner modern? Semoga terus terjaga.

Jaje Bali

***

Tulisan Lainnya Tentang Bali:
1. Catatan Wisata Alam dan Budaya di Bali (Bagian 1): GWK Cultural Park, Pantai Suluban, Ayam Betutu Pak Man
2. Catatan Wisata Alam dan Budaya di Bali (Bagian 2): Goa Gajah dan Tukad Cepung
3. Catatan Wisata Alam dan Budaya di Bali (Bagian 3): Pura Lempuyang dan Pasar Ubud di Sore Hari
4. Catatan Wisata Alam dan Budaya di Bali (Bagian 4): Sarapan di Pasar Ubud, Pantai Balangan, dan Oleh-Oleh
5. Aneka Jaje khas Bali yang Harus Dicoba
6. Liligundi Warung Jaje Bali, Tempat Makan Autentik Khas Bali
7. Tiga Pantai Rahasia di Bali Selatan yang Wajib Dikunjungi

garvin

Ada 3 hal yang paling ia suka: budaya, sejarah, dan mendaki gunung. Ia dapat dihubungi melalui @garvingoei.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *