Perjalanan Pertama ke Tanah Dewata Bali: Wisata Alam Hingga Budaya (Bagian 2)

Tidur larut malam pada hari pertama perjalanan saya di Bali membuat saya terbangun agak siang. Segera saya mandi, berkemas (karena saya akan segera check out dan menginap di Ubud malam ini), dan menuju destinasi selanjutnya.

Ada hal unik di Bali, yakni kita akan menemukan banyak sesajen entah itu di tepi jalan, di dekat pohon yang dianggap keramat, maupun di sudut-sudut tempat lainnya.  Kadangkala, aroma dupa yang harum juga numpang melewati indra penciuman kita. Inilah Bali, bagian Indonesia yang terbuka menerima budaya asing dan modernitas, tetapi tetap menjaga dan melestarikan budaya asli lokal. Berpikir progresif dan modern boleh saja, tetapi tradisi asli tetap kita jaga. Semangat inilah yang seharusnya dijaga, tetap maju tanpa harus menghilangkan identitas; bukan justru bersikap kaku pada satu pihak.

sesajen Bali

Sarapan Kuliner Tradisional

Dan, dengan semangat mencintai budaya asli nusantara, maka sarapan pertama saya di Bali akan saya rayakan dengan menyantap kuliner asli Bali. Berdasarkan hasil googling beberapa hari sebelumnya, saya memutuskan untuk bersantap pagi di Liligundi Warung Jaje Bali. Adapun saya memilih tempat ini karena searah dari perjalanan saya dari Kuta menuju Ubud, dan tempat ini menyajikan berbagai hidangan otentik Bali.

Tempatnya cukup luas, mungkin dapat menampung 30 hingga 40 orang. Atmosfernya tenang dan damai, membuat ingin berlama-lama di sini. Salah seorang pengelola warung sedang bersembahyang di depan altar dewata Bali, membakar beberapa batang dupa dan menyajikan sesajen. Sambil menikmati pagi yang santai ini, seorang pelayan datang menghampiri saya sambil membawa buku menu. Aneka hidangan asli Bali seperti laklak bersanding dengan menu-menu barat seperti pancake. Menu yang saya pesan adalah tipat cantok, bulung bani cantok, bulung kuah pindang, tipat kuah, dan jaje Bali.

kuliner tradisional khas Bali - liligundi jaje bali

Jaje Bali

Tipat berarti ketupat, sedangkan cantok sendiri artinya diuleg. Tipat cantok mirip seperti gado-gado, yakni ketupat dengan sayuran disajikan dengan saus kacang uleg. Tipat kuah sendiri artinya ketupat kuah, dengan bumbu Bali yang khas dan urap yang segar.

Sedangkan bulung adalah rumput laut khas Bali. Bulung bani cantok, sesuai namanya, adalah sajian rumput laut dengan bumbu kacang yang gurih. Sedang bulung kuah pindang merupakan rumput laut dengan kuah kaldu ikan dan terasi. Rasanya unik! Bagi yang penasaran dengan hidangan-hidangan otentik khas Bali, bisa baca di tulisan saya: kuliner otentik khas Bali.

Dan tak lupa, sepiring jaje Bali tersaji dengan manis. Jaje sendiri berarti “jajanan pasar”. Saya memilih laklak, jaje giling, dan jaje injin. Rasanya manis legit, diakhiri dengan seruputan es daluman yang menyegarkan.

lilgundi warung jaje bali

Wisata Sejarah dan Budaya di Goa Gajah

Perut kenyang, perjalanan dilanjutkan. Saya kembali menarik gas sepeda motor saya untuk menuju destinasi selanjutnya yang terletak di Kabupaten Gianyar: Goa Gajah. Berdasarkan informasi yang saya peroleh, Goa Gajah merupakan gua buatan yang pada zaman kerajaan difungsikan sebagai tempat beribadah dengan corak Hindu-Buddha. Nilai sejarahnya yang tinggi membuat Goa Gajah tercatat sebagai salah satu daftar tentatif situs warisan dunia versi UNESCO. Masuk ke dalam gua, kita bisa menemukan patung Ganesha dan Trilingga, lengkap bersama dengan sesajennya (memang, tempat ini masih menjadi lokasi peribadahan umat Hindu Bali). Suasana di dalam gua yang lembab menambah kesan magis yang dimunculkan oleh Goa Gajah ini.

goa gajah

daya tarik goa gajah

Masih di dalam kompleks Goa Gajah, kita bisa menemukan area yang disebut sebagai Tukad Pangkung. Di sini terdapat patung Buddha beserta altar peribadahannya. Uniknya, di sini Buddha tidak disebut sebagai “Buddha” melainkan “Ratu Pertapaan”. Setelah saya tanyakan kepada pedanda yang berada di tempat, barulah saya diberitahu bahwa yang dimaksud dengan Ratu Pertapaan ini adalah Buddha / Siddhartha Gautama. Pada zaman Hindu Buddha, istilah “ratu” dapat diartikan sebagai “pemimpin”, dan tidak identik dengan jenis kelamin tertentu, sehingga tidak salah apabila Buddha disebut sebagai Ratu Pertapaan.

goa gajah

Oh iya, di depan kompleks Goa Gajah, saya sempat menemukan seseorang dengan penampilan yang cukup menarik (seluruh badannya nyaris dikelilingi oleh tato!) yang sedang bermain dengan ularnya. Apabila ada pengunjung yang mendekat, ia akan menawarkan pengunjung untuk memegang ular tersebut dan foto bersama. Karena saya memiliki ketakutan tersendiri terhadap ular, maka saya hanya melihatnya dari jauh dan menyaksikan seorang wisatawan asing yang agak histeris ketika diajak untuk memegang ular.

Puas menikmati Goa Gajah, saya pun segera menuju ke arah timur untuk destinasi selanjutnya: Tukad Cepung.

Makan Siang di Desa Nyalian

Tukad Cepung merupakan tempat wisata alam yang cukup terkenal di Kabupaten Bangli. Tukad sendiri berarti “sungai”, tetapi daya tarik utama dari tempat ini adalah air terjun dan laguna di bawahnya yang cantik dan sejuk. Tempatnya yang agak jauh dan “tersembunyi” serta rekomendasi dari berbagai situs wisata membuat saya penasaran untuk mendatanginya.

Perjalanan dari Goa Gajah menuju Tukad Cepung terasa menyenangkan karena Tukad Cepung berada di daerah pegunungan yang hijau dan asri. Sepanjang perjalanan saya disuguhi dengan pemandangan persawahan khas dataran tinggi, lengkap dengan udara yang segar dan sejuk! Saya sempat beristirahat di tengah perjalanan, bersantap siang di sebuah warung yang bernama “Kubu Sirkuma” yang terletak di Desa Nyalian.

Warung ini sangat sederhana, berupa panggung dari kayu dan berada tepat di depan sawah. Penjaga warungnya adalah seorang ibu bersama dengan dua orang putrinya. Lapar, saya pun mampir dan memesan seporsi nasi jinggo, nasi bungkus khas Bali dengan berbagai isian lauk. Saya kemudian penasaran dengan salah satu minuman yang ditawarkan oleh sang ibu, yakni sirkuma – yang merupakan singkatan dari sirih, kunyit, dan madu. Rasanya manis dan segar, langsung saya teguk dengan cepat. Menurut sang Ibu, minuman ini bagus untuk menjaga kebugaran tubuh, serta termasuk dalam golongan “loloh” alias jamu khas Bali.

Warung Sirkuma

Kubu Sirkuma

Perut kenyang, perjalanan pun dilanjutkan. Berdasarkan informasi dari ibu penjaga warung, Tukad Cepung seharusnya sudah dekat sekali.

Berwisata Alam di Tukad Cepung

Kunjungan ke Tukad Cepung nyaris batal. Hujan yang turun membuat saya harus menepikan sepeda motor untuk berteduh. Hujannya tidak terlalu deras, tetapi karena turun terus-menerus membuat saya sempat terpikirkan untuk membatalkan wisata ke Tukad Cepung saja. Sebagai orang yang senang mendaki gunung dan mengunjungi curug, mendatangi objek wisata alam dataran tinggi seusai hujan bukanlah ide yang baik. Jalan menjadi becek dan basah sehingga menjadi berbahaya untuk dilintasi. Bukankah lebih baik putar balik dan pulang ke kota saja?

Namun tak lama, hujan ternyata berhenti. Niat ke Tukad Cepung belum 100% hilang, apalagi Tukad Cepung sudah sangat dekat sekali. Akhirnya saya membuat perjanjian dengan diri sendiri: kalau jalurnya ternyata berbahaya, maka saya akan mengurungkan kunjungan dan kembali ke kota; tetapi jika jalurnya masih aman, maka saya akan melanjutkan keinginan untuk trekking di Tukad Cepung.

Setelah melanjutkan berkendara lagi menggunakan sepeda motor selama 5 menit, akhirnya saya sampai di Tukad Cepung. Nampak beberapa wisatawan asing sedang membersihkan kakinya yang cukup kotor. Jalanan memang terlihat basah, tetapi tidak berbahaya. Saya pun memutuskan untuk memarkir sepeda motor dan memulai trekking.

Jalurnya mudah. Awalnya jalanan masih beraspal, dengan pemandangan hutan di sebelah kiri dan tebing di sebelah kanan. Namun perlahan-lahan jalanan menyempit dan jalan aspal mulai berganti dengan jalan tapak. Perlahan-lahan juga pepohonan semakin rindang dan cahaya matahari mulai mengintip tipis. Aliran air mulai terlihat, bergantian dengan batu-batuan besar. Saya sempat mengambil foto di sini.

tukad cepung bali

Tukad Cepung Bali

Setelah trekking tak lebih dari 20 menit lamanya, akhirnya saya tiba juga di ujung perjalanan ini, air terjun Tukad Cepung. Tempatnya sunyi dan hanya ada saya bersama sekelompok wisatawan asal Rusia yang terdiri dari 3 orang. Air terjunnya deras, airnya jernih, dan cahaya matahari yang pelan-pelan mengintip memberikan atmosfer misterius namun tetap memikat. Hidden gem in Bali!

tukad cepung bali

Jika bukan karena mengingat waktu sudah mulai petang, mungkin saya tidak akan cepat-cepat kembali ke kota.

Malam Kedua: Ubud

Malam kedua saya di Bali akan dihabiskan di Ubud. Sama seperti Kuta, Ubud menjadi salah satu kecamatan yang menjadi destinasi wisata dan ramai dengan turis. Ada banyak kafe, rumah makan baik masakan khas Bali ataupun barat, toko pernak-pernik, sampai dengan penginapan. Di sebuah warung sederhana, saya memesan seporti nasi be genyol, yakni lemak dan daging babi yang dimasak dengan kecap. Kata genyol sendiri berasal dari tekstur lemak babi yang kenyal. Rasanya manis dan gurih.

nasi be genyol

Saya juga menyempatkan diri untuk mencoba salah satu kafe gelato yang cukup ramai dengan pembeli. Gelato Secrets namanya. Ada berbagai macam rasa gelato di sini, dengan pilihan menggunakan cup (gelas), cone (biskuit berbentuk kerucut), atau wafel. Saya mencoba dua rasa baru yang sedang menjadi “valentine special”, yakni rasa rose petal alias kelopak bunga mawar dan blueberry lavender. Baik aroma dan tekstur gelato terasa sama lembutnya.

gelato secrets bali

 

Berbeda dengan malam di Kuta yang saya habiskan hingga larut di bar, untuk malam kedua saya beristirahat cukup cepat, karena pada hari ketiga saya akan melakukan perjalanan jauh menuju Pura Lempuyang.

Dan catatan perjalanan untuk hari ketiga hingga keempat bisa dibaca di sini.

garvin

Ada 3 hal yang paling ia suka: budaya, sejarah, dan mendaki gunung. Ia dapat dihubungi melalui @garvingoei.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *