Bakmi Ayam Acang, Sejak 1969 di Grogol

Saya diinformasikan bahwa ada salah satu penjual bakmi enak, selain Bakmi Acing dan Uban, yang juga harus dicoba di Grogol. Bahkan bakmi ini lebih “tua” lagi dari Acing dan Uban. Wah, saya jadi penasaran dan langsung mencari tahu tentang tempat ini.

Tempatnya besar dan mudah ditemukan, tidak jauh dari Waroenk Kito dan memang lokasinya adalah lokasi untuk mencari makanan. Tak heran juga, baik lokasi dan rumah makan bakminya juga tergolong ramai. Rumah makan ini terdiri dari 3 buah ruko yang digabung menjadi satu sehingga luas sekali. Penerangannya sangat baik dan kebersihannya pun cukup baik, meski alat makan di meja saya temukan tidak tertutup rapat pada sebagian besar meja. Khusus untuk area masaknya dibatasi oleh kaca sehingga kita bisa melihat bagaimana karyawan-karyawan dari Bakmi Acang memasak dan menyiapkan makanan kita.

Bakmi Acang ini merupakan salah satu penjual bakmi tertua di daerah Grogol karena sudah berjualan sejak 1969. Awalnya, Loa Uncang bekerja membantu pamannya untuk mendorong gerobak berjualan bakmi. Akhir 1960an, sang paman meninggal sehingga Loa Uncang pun terpikir untuk melanjutkan usaha pamannya. Awalnya ia berjualan bakmi dengan gerobak keliling, hingga pada 1973 baru ia menempati bangunan dan tidak berjualan keliling lagi. Loa Uncang berjualan dibantu oleh Alok, yang nantinya akan membuka Bakmi Alok. Tidak heran, bakmi di kedua tempat ini memiliki karakteristik yang mirip. Serupa tapi tak sama.

Saya langsung memesan menu andalan rumah makan bakmi ini, yakni bakmi ayam. Kita juga bisa memesan tambahan seperti pangsit, bakso, swikiaw; atau mengganti bakmi dengan bihun dan kwetiaw. Tidak menunggu lama, hidangan langsung diantarkan ke meja kita.

Tersaji tiga mangkuk di atas meja: pertama adalah mangkuk berisi bakmi, sedangkan dua mangkuk sisanya adalah mangkuk berisi kuah dan mangkuk berisi selada segar. Tampilan sajian bakminya sederhana sekali, hanya ada bakmi dengan potongan daging ayam rebus di atasnya. Saya pesan ayam bagian dada. Tekstur mienya berbeda sendiri di antara Alok, Acing, dan Alung; tiga rumah makan bakmi yang sama-sama menyajikan mie ayam rebus di Grogol. Mie yang digunakan bukan mie karet, melainkan mie halus yang sedikit lebih tebal dari mie halus biasa, sehingga tekstur mienya tidak sealot bakmi karet. Sedangkan penyajian ayam rebusnya juga tidak disertai dengan bagian kulit, benar-benar hanya dagingnya saja. Jika ingin kulit kita harus memintanya lagi.

Rasa mienya tergolong enak. Bumbunya menggunakan minyak ayam, tetapi diracik dengan baik sehingga mienya harum dan rasanya gurih. Dari segi rasa, yang membedakan bakmi Acang dengan ketiga bakmi yang sudah disebutkan tadi adalah penggunaan mericanya. Aroma merica pada bakmi Acang terasa cukup kuat. Daging ayam yang digunakan adalah daging ayam rebus, direbus dengan baik sehingga teksturnya empuk. Oh iya, penggunaan selada segar juga cukup menarik, sebab biasanya hidangan bakmi menggunakan sawi hijau rebus atau siomak rebus. Kuah kaldunya lezat sekali, tidak terlalu banyak menggunakan MSG sehingga terasa lebih alami. Memang aroma kaldunya tidak medhok, tapi rasa kaldunya cukup untuk memuaskan selera makan kita. Jangan lupa, tambahkan juga saus sambal yang bercita rasa asam pedas untuk menambah dimensi rasa.

Jika Anda lebih menyukai jeroan ayam, Anda bisa minta untuk ditambahkan ke dalam hidangan bakmi Anda. Ada hati, ampela, telur muda, bahkan darah ayam. Bisa juga meminta kulit ayam bagi yang menyukai tekstur kenyal kulit ayam rebus. Kebetulan saya bukan penggemar jeroan dan kulit ayam sehingga tidak memesannya.

Semangkuk bakmi ayam dihargai Rp35.000. Mahal? Relatif, tetapi memang begini standar bakmi ayam kampung rebus seperti Alok dan Acing. Menurut saya, harganya pantas karena disertai dengan rasa yang lezat dan daging ayam kampung yang direbus dengan baik.

Bakmi Ayam Acang
Jl. Dr. Susilo III No.14, Grogol, Jakarta Barat
Jam buka: 06.00 – 14.00 (Senin tutup)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *