Kebun Raya Bogor: Tanpa Bunga Bangkai, Tanpa Rafflesia Arnoldi

Sewaktu kecil, saya sering mendengar bahwa ada bunga bangkai raksasa di Bogor, persisnya di Kebun Raya Bogor. Bunga ini berukuran besar dan mengeluarkan aroma yang mirip bangkai. Selain itu, ada juga Rafflesia Arnoldi yang ditemukan oleh seorang asal Inggris bernama Thomas Raffles dan rekannya Joseph Arnold. Keduanya merupakan bunga yang menjadi identik dengan Kebun Raya Bogor. Informasi ini terus terekam dalam kepala saya, tetapi saya tidak pernah pergi ke sana untuk melihatnya.

Hingga akhirnya, setelah sebelumnya sudah belasan kali berkunjung ke Bogor, kemarin-kemarin ini saya baru berpikiran untuk mengunjungi Kebun Raya Bogor. Keinginan ini muncul karena dua hal: pertama saya sedang ingin liburan tetapi hanya punya waktu satu hari saja, dan kedua, saya memang sedang penasaran dengan Kebun Raya Bogor. Apalagi, pada tahun 2017 silam (dua tahun lalu), Kebun Raya Bogor baru saja merayakan hari ulang tahunnya yang ke 200. Genap 2 abad! Berarti pada tahun ini, Kebun Raya Bogor sudah berusia 202 tahun.

Tidak sulit untuk menjangkau Kebun Raya Bogor. Dari Jakarta, saya naik kereta commuter line jurusan Jakarta Kota – Bogor. Tarifnya hanya Rp6000 sekali jalan, dengan waktu perjalanan sekitar 90 menit. Setelah tiba di Stasiun Bogor, saya langsung memesan ojek mobil online. Sebenarnya bisa juga naik angkot, tetapi kali ini saya tidak sendirian sehingga lebih nyaman menggunakan mobil saja. Perjalanan dari Stasiun Bogor ke pintu utama Kebun Raya Bogor sendiri tidak terlalu jauh, sekitar 15 menit saja (tapi kalau macet, bisa sampai 30 menit).

Ada banyak pintu masuk Kebun Raya Bogor, tetapi pintu utamanya ada di Jalan Juanda, persis di seberang gapura Jalan Suryakencana yang terkenal dengan wisata kulinernya itu. Tiket masuknya hanya Rp15ribu per orang.

Kebun Raya Bogor

Saran No.1: Minta Peta!

Hal pertama yang terpikirkan ketika masuk ke dalam Kebun Raya Bogor adalah… selanjutnya harus jalan ke mana? Hahaha… karena tempat ini luas sekali! Luasnya 87 hektar dan kalau berjalan sendirian tanpa petunjuk, dijmain akan tersesat! Walhasil saya kembali ke tempat pemeriksaan tiket dan meminta peta agar memiliki petunjuk untuk mengelilingi tempat ini. Petanya gratis dan mudah dibaca!

Sepengamatan mata, banyak juga yang datang ke sini menggunakan mobil (karena memang ada jalur untuk mobil). Ada untung dan ruginya masuk ke Kebun Raya Bogor menggunakan mobil. Untungnya, perjalanan mengelilingi Kebun Raya Bogor jadi tidak melelahkan; ruginya, karena banyak yang menggunakan mobil, walhasil jalur mobilnya jadi macet. Kalau menurut saya, jalan kaki atau bersepeda rasanya lebih seru, sebab kita bisa berolahraga sambil menikmati alam. Toh tempatnya tidak panas karena banyak pohon-pohon tinggi yang melindungi kita dari sengatan matahari, sekalipun hari sedang siang bolong. Ngomong-ngomong, di sini kita bisa menyewa sepeda (tarifnya Rp20ribu per jam) atau naik mobil wara-wiri yang tersedia (bayar juga, kalau tidak salah Rp25ribu).

Raja Pohon Asia

Sebagai informasi, kabarnya ada 15.000 (iya, lima belas ribu) jenis tumbuhan yang berada di dalam Kebun Raya Bogor. Oke, itu bukan jumlah yang sedikit. Awalnya saya kira mengenal 15.000 jenis tumbuhan akan menjadi hal yang seru, tetapi nyatanya kadangkala saya bingung karena sepanjang mata memandang yang saya lihat hanyalah pohon dan daun-daunan yang nampak sama saja (hahaha… dasar anak kota). Mungkin bagi anak botani, keberadaan 15ribu jenis ini akan sangat menarik, dan pastinya mereka bisa membedakan secara detil antara dua jenis pohon yang berbeda.

Di antara belasan ribu jenis pohon itu, ada satu yang paling saya ingat, yakni pohon Koompassia excelsa atau dijuluki dengan “Pohon Kayu Raja Asia”. Dijuluki raja, sebab pohon ini adalah salah satu jenis pohon tertinggi di Asia Tenggara. Di habitat aslinya konon tingginya bisa mencapai 80 m! Tetapi pohon kayu raja Asia yang di Kebun Raya Bogor hanya setinggi sekitar 40-5o meter saja, tapi itupun sudah tinggi sekali.

Pohon kayu raja kebun raya bogor

Jika ingin melihat pohon ini, letaknya tidak jauh dari pintu utama. Masuk dari pintu utama, berjalan sedikit ke arah kanan, maka kita akan menemukan pohon ini.

Pohon Kayu Raja

Zonk! Tidak Ada Bunga Bangkai dan Rafflesia Arnoldi!

Oh iya, sebenarnya tujuan awal saya ke sini adalah untuk melihat bunga bangkai yang melegenda itu. Maka dengan peta saya segera mencari titik bunga tersebut berada. Berjalan semakin jauh dari pintu utama dan semakin mendekati titik di peta, tetapi bunga itu tidak kunjung terlihat juga! Sempat berputar-putar sebentar, sempat bingung juga, sampai akhirnya berinisiatif bertanya kepada tukang es krim. Ternyata baik bunga bangkai dan Rafflesia Arnoldi (padma raksasa) tidak selalu ada sepanjang tahun! Hanya pada bulan-bulan tertentu bunga ini bisa mekar dan itupun belum tentu setahun sekali! Yaaahhhh…

Bahkan, sekadar ingin melihat kuncup bunganya pun saja katanya tidak bisa. Saya sampai mengonfirmasi jawaban ini dengan bertanya kepada petugas, dan jawabannya juga sama. Menurut petugas, tunggu saja sampai nanti di berita muncul informasi bahwa bunga bangkai dan Rafflesia Arnoldi sudah mekar, nanti baru datang untuk melihatnya.

kebun raya bogor

Oh iya, saya baru tahu kalau bunga bangkai dan Rafflesia Arnoldi (padma raksasa) itu ternyata dua jenis bunga yang berbeda! Bunga bangkai atau Amorphophallus merupakan tumbuhan yang mengeluarkan bau busuk yang sebenarnya bertujuan untuk mengundang lalat dan kumbang menyerbuki bunganya, bau tak sedap ini yang akhirnya membuat bunga ini dijuluki “bunga bangkai”. Sedangkan bunga padma raksasa atau Rafflesia arnoldi adalah jenis yang berbeda, ditemukan oleh seorang Inggris bernama Sir Thomas Stamford Raffles yang sedang memimpin ekspedisi bersama dengan pemandunya, Dr. Joseph Arnold. Bunga ini sedang terancam punah karena penggundulan hutan dan persentase pembuahan yang sangat kecil. Mengapa persentasenya sangat kecil? Hal ini karena bunga padma raksasa hanya dapat bertahan hingga usia 5 sampai 7 hari dan kemudian layu dan mati. Masalahnya, baik bunga jantan dan bunga betina jarang mekar pada waktu yang bersamaan dan dibutuhkan lalat untuk membuahi bunga ini. Karena sama-sama mengeluarkan bau tidak sedap, bunga bangkai dan bunga padma raksasa seringkali dianggap sebagai dua jenis bunga yang sama, padahal keduanya berbeda.

Well, meski tidak dapat melihat kedua bunga tersebut secara langsung, minimal pengetahuan saya tentang kedua jenis bunga ini menjadi bertambah.

Jajanan Khas: Es Krim

Sepanjang Kebun Raya Bogor, kita akan sering menemukan sebuah booth yang berjualan es krim. Booth ini cukup menarik, karena tertulis bahwa es krim ini dijual oleh Koperasi Kebun Raya Bogor dan harganya hanya Rp3000 per cone. Menarik!

Pas sekali, saat itu saya sudah cukup letih berjalan kaki dan tenggorokan mulai terasa kering. Saya coba untuk membeli. Ada tiga macam rasa: coklat, vanila, dan stroberi. Es krimnya hanya satu scoop, rasanya manis segar; tetapi jangan berharap terlalu banyak! Rasanya tidak mungkin sama dengan gelato atau kedai-kedai es krim yang harganya bisa Rp35ribu per cone. Nampaknya bahan utamanya susu dengan konsentrasi yang tipis, dengan gula dan esens sebagai pemberi citarasa.

Meskipun bukan kudapan dengan citarasa yang mewah, tetapi es krim ini cukup membantu menawarkan letih setelah berjalan kaki!

es krim kebun raya bogor

Taman Akuatik

Destinasi lain yang saya kunjungi adalah Taman Akuatik. Sesuai dengan namanya, taman ini menawarkan koleksi tumbuhan-tumbuhan air yang berada di atas kolam. Tumbuhan teratai mendominasi kolam, dengan aneka tumbuhan-tumbuhan air lainnya (lagi-lagi, karena bukan anak botani, saya tidak bisa menjabarkan ada tumbuhan apa saja). Tempat ini adalah tempat yang cocok untuk bersantai dan menikmati pemandangan. Sayangnya, karena saya datang bukan di bulan yang tepat, tumbuhan-tumbuhan yang berbunga sedang tidak mekar saat ini.

taman akuatik kebun raya bogor 1

taman akuatik kebun raya bogor

taman akuatik kebun raya bogor

Museum Zoologi

Museum inilah penawar rasa kecewa saya karena berkunjung di waktu yang tidak tepat! Lokasinya agak terpencil, lebih baik bertanya kepada petugas agar tidak tersesat. Awalnya saya tidak terlalu optimis dengan museum ini, mengingat beberapa tempat sudah saya kunjungi tetapi semuanya biasa saja karena datang di musim kemarau. Apalagi, area depan museum juga tidak terlalu spesial.

museum zoologi bogor

Tetapi begitu masuk, saya langsung antusias. Tulang rangka beberapa hewan segera menyambut gagah. Favorit saya, tulang kerangka hewan anoa, menarik!

museum zoologi bogor

museum zoologi bogor

Sebelum berjalan lebih jauh, museum zoologi merupakan museum satwa yang paling lengkap di Indonesia. Saking lengkapnya, museum zoologi juga sering menjadi rujukan peneliti di dunia internasional. Usia museum ini juga tidak lagi muda, silakan hitung sendiri dari “tanggal lahir” museum yang jatuh pada 23 Agustus 1894. Klasik, tapi tetap menarik.

Sebut saja mamalia, ikan, burung, reptil, amfibia, moluska, serangga, dan invertebrata lainnya. Semua ada di sini. Tentu bukan dalam bentuk binatang yang masih hidup, ada yang berupa spesimen yang diawetkan, fosil, atau diorama. Setiap area dalam museum ini bertemakan jenis binatang tertentu. Keanekaragaman binatang benar-benar bisa kita pelajari di sini. Aneka ragam ikan, katak, kerang, ular, serangga, sampai tikus, ada semua! Salah satu koleksi yang menarik tentu saja aneka kupu-kupu dan kerang.

museum zoologi bogor

museum zoologi bogor

Di dekat pintu keluar museum, kita akan menemukan tulang rangka paus biru yang ukurannya besar sekali. Epic! Besarnya kira-kira seperti satu buah bus. Tak terbayang bagaimana rasanya bila bertemu dengan paus biru yang masih hidup.

museum zoologi bogor

museum zoologi bogor

Masuk ke museum ini tidak akan cukup hanya dalam waktu 1 jam. Bawa buku catatan dan kamera anda, tempat ini benar-benar menarik untuk didokumentasikan!

Sebelum Pulang

Tak terasa waktu sudah beranjak sore. Kebun Raya Bogor tutup pada pukul 17.00. Sebelum keluar, saya menyempatkan diri ke toko souvenir dulu. Di dalam toko souvenir ini, kita bisa membeli bibit maupun benih tanaman untuk ditanam sendiri di dalam rumah beserta peralatannya. Ada yang ingin membeli?

Meskipun datang saat musim kemarau, di mana tidak ada tumbuhan yang sedang berbunga, Kebun Raya Bogor tetap menjadi tempat yang berkesan di hati. Saya jadi penasaran, bakal seindah apa tempat ini pada saat musim bunga sedang bermekaran? Saya akan kembali lagi untuk melihat bunga-bunga bermekaran di sini.

museum zoologi bogor

 

garvin

Ada 3 hal yang paling ia suka: budaya, sejarah, dan mendaki gunung. Ia dapat dihubungi melalui @garvingoei.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *