Jalan-Jalan Sekaligus Belajar tentang Astronomi di Observatorium Bosscha Lembang

Hal menarik apa yang bisa dilakukan di Lembang? Karena sudah menjadi salah satu destinasi wisata yang sangat populer bagi warga Jawa Barat dan Jabodetabek, Lembang selalu padat didatangi pengunjung pada akhir pekan, apalagi bila sedang long weekend. Bahkan pada akhir Desember 2019 kemarin, terjadi macet panjang di Lembang saking banyaknya pengunjung!

Ada banyak hal yang bisa dilakukan di Lembang, sebab memang ada banyak destinasi wisata juga di sana. Biasanya orang-orang akan berwisata ala koboy di De Ranch, berfoto-foto ria di The Great Asia Afrika, atau berwisata kuliner Floating Market, Rumah Sosis, dan tempat-tempat kuliner kekinian lainnya. Bagi saya yang menyukai wisata alam, budaya, dan kuliner autentik, Lembang bukan tempat yang terlalu menarik bagi saya. Namun akhir-akhir ini saya mulai mempertimbangkan untuk pergi ke Lembang. Tentu saja bukan karena De Ranch, The Great Asia Afrika, Floating Market, atau semacamnya. Ada beberapa destinasi yang terlihat menarik: wisata alam di Jayagiri dan melihat bunga-bunga di Orchid Forest, serta mengunjungi Observatorium Bosscha yang bernilai sejarah tinggi.

Tempat yang saya sebut terakhir itu sangat membuat saya penasaran.

Maka akhirnya saya memutuskan untuk menyiapkan waktu agar saya bisa berkunjung ke Lembang dan mendatangi Observatorium Bosscha yang bersejarah itu.

Dari Jakarta, saya menggunakan kereta Argo Parahyangan tujuan Bandung dengan harga Rp80.000 (namun jika sedang peak season bisa mencapai Rp120.000) untuk kelas ekonomi. Sebagai informasi, kereta Argo Parahyangan kelas ekonomi saja sudah sangat nyaman! Sebab berbeda dengan kereta-kereta ekonomi pada umumnya, Argo Parahyangan tetap menggunakan susunan 2-2 untuk bangkunya dan tidak ada bangku yang saling berhadap-hadapan seperti kereta ekonomi lain. Ditambah lagi, jarak antar bangkunya juga tidak terlalu sempit. Lagipula perjalanannya hanya 3 jam, menurut saya kereta ekonomi Argo Parahyangan sudah sangat cukup. Beda halnya jika saya harus naik kereta ke Yogyakarta, Semarang, Solo, atau bahkan Surabaya. Wajib kereta eksekutif agar lebih nyaman karena perjalanan yang ditempuh lumayan panjang (atau mending pesawat sekalian).

Setibanya di Bandung, saya menghabiskan waktu untuk berwisata kuliner. Salah satu destinasi wisata kuliner Bandung favorit saya adalah Jalan Cibadak yang baik makanan dan suasananya enak – atau kalau siang, Lomie Gang Lombok juga menjadi favorit. Silakan datang dan coba, lalu berikan komentar di blog ini ya!

Dari Kota Bandung menuju ke Lembang, meski bisa menggunakan angkutan umum, saya sangat menyarankan agar teman-teman menyewa kendaraan saja. Waktu yang ditempuh akan lebih hemat sehingga kita memiliki kesempatan lebih banyak untuk menjelajahi Lembang.

Singkat cerita, dengan menggunakan sepeda motor rental, saya pun berangkat dari Kota Bandung menuju Observatorium Bosscha yang terletak di Lembang. Jaraknya tidak terlalu jauh, sekitar 30 menit saja sudah sampai.

Observatorium Bosscha Lembang Bandung

Observatorium Bosscha Lembang Bandung

Observatorium Bosscha Lembang Bandung

Observatorium Bosscha Lembang Bandung

Apa sih istimewanya Observatorium Bosscha sehingga saya bela-belain ke sana? Dari informasi yang saya peroleh, Observatorium Bosscha adalah observatorium tertua yang ada di Indonesia, dan bahkan salah satu tertua di Asia. Bagi yang belum tahu, observatorium ini adalah ruang untuk meneropong bintang dan benda-benda lainnya di angkasa. Observatorium ini dikelola oleh Institut Teknologi Bandung dan digunakan untuk melakukan penelitian tentang astronomi. Nama Bosscha sendiri diambil dari nama pendiri observatorium ini. seorang berkebangsaan Belanda yang memiliki kebun teh di Malabar, Bandung. Pada tahun 1923, ia mendanai pembangunan observatorium di kawasan Lembang. Beberapa kontribusinya adalah mendonasikan tanah miliknya yang digunakan untuk membangun observatorium, dan teleskop Carl Zeiss yang digunakan oleh observatorium ini juga didanai olehnya. Saking besarnya kontribusi Bosscha terhadap pembangunan observatorium ini, maka akhirnya dinamai “Observatorium Bosscha”.

Kunjungan ke Observatorium Bosscha tidak bisa sembarangan. Pada hari kerja atau weekdays, wisatawan perorangan tidak dapat mengunjungi tempat ini karena digunakan untuk penelitian. Hanya kunjungan dari sekolah maupun universitas saja yang diizinkan pada hari biasa (rombongan tur pun tidak diizinkan!). Jika rombongan tur atau wisatawan perorangan / keluarga ingin berkunjung, waktu yang diberikan adalah hanya pada hari Sabtu. Itupun ada kloter-kloter kunjungan yang harus diperhatikan.

Observatorium Bosscha Lembang Bandung

 

Observatorium Bosscha Lembang Bandung

Observatorium Bosscha Lembang Bandung

Saya datang pada hari Sabtu, dan ada 4 sesi yang dibuka:

  • Sesi 1 dari jam 09.30 – 10.30
  • Sesi 2 dari jam 10.45 – 11.45
  • Sesi 3 dari jam 12.00 – 12.45
  • Sesi 4 dari jam 13.00 – 14.00

Catatan dari saya, jangan sampai datang terlambat! Karena kita akan dioper ke sesi berikutnya dan kalau datang terlambat pada sesi 4, maka harus menunggu Sabtu depannya lagi. Kuotanya pun dibatasi, jadi jika sudah terlalu ramai maka kita harus menunggu hingga sesi berikutnya.

Tiket masuknya adalah Rp15.000 per orang. Setelah membeli tiket, maka kita akan diarahkan untuk masuk ke ruang multimedia. Di sini kita akan dipandu oleh petugas (biasanya adalah peneliti astronomi ITB) yang akan memutar video dan menjelaskan berbagai hal tentang astronomi. Gaya pembawaannya ringan dan mudah dipahami, jadi tidak membosankan, bahkan seru! Dari sini saya jadi tahu bahwa perpindahan manusia dari planet Bumi ke Mars bukan lagi angan-angan dalam dongeng sains fiksi semata, tetapi memang sudah direncanakan dan risetnya sudah dilakukan secara serius! Dari sini pula saya jadi tahu bahwa meski secara alamiah umur bumi seharusnya masih panjang, tetapi karena ulah manusia yang tidak peduli dengan lingkungan usia bumi akhirnya menjadi lebih pendek dari seharusnya.

Observatorium Bosscha Lembang Bandung

Observatorium Bosscha Lembang Bandung

Usai mendapatkan edukasi yang seru dan informatif dari ruang multimedia, selanjutnya saya diajak ke ruang peneropongan. Di sinilah saya bisa melihat langsung teleskop Zeiss yang beratnya mencapai puluhan ton! Petugas juga akan mendemonstrasikan cara kerja teleskop Zeiss, meski sayangnya kita tidak dapat melakukan peneropongan pada siang hari karena dapat membutakan mata kita. Di sini para pengunjung biasanya akan berdecak kagum norak, sebab ruang peneropongan ini bisa diangkat naik turun layaknya lift, serta kubah yang menutupi ruang peneropongan ini juga dapat dibuka secara mekanik layaknya markas rahasia agen yang selama ini saya tonton di layar kaca! Sayangnya lagi, karena saat itu hujan sedang rintik-rintik, proses pembukaan kubah tidak dilakukan karena khawatir akan merusak alat-alat yang ada di dalam ruangan.

Observatorium Bosscha Lembang Bandung

Observatorium Bosscha Lembang Bandung

Pada waktu-waktu tertentu, kunjungan malam juga bisa dilakukan. Khusus pada kunjungan malam, kita bisa melakukan peneropongan dengan teleskop portable. Namun kunjungan malam ini tidak rutin diadakan, karena harus menunggu langit cerah (tidak mendung, hujan, ataupun berkabut). Untuk mendapatkan info kunjungan malam, kita harus rutin mengunjungi situs atau akun Instagram Observatorium Bosscha.

Usai berwisata edukasi di ruang multimedia dan ruang peneropongan, para pengunjung pun dipersilakan untuk kembali ke luar dan kunjungan pun selesai. Seru sekali! Menurut saya, Observatorium Bosscha ini cocok dijadikan sebagai alternatif wisata di Lembang yang didominasi oleh objek-objek wisata kekinian saja. Selain itu, tempat ini juga sangat cocok dikunjungi bersama keluarga, terutama mengajak anak-anak agar mereka semakin teredukasi dan menggugah minat mereka dalam bidang sains.

Observatorium Bosscha Lembang Bandung

Tak lama setelah kunjungan selesai, hujan deras pun mengguyur tanah Lembang. Saya menepi sambil menyantap seporsi tahu bakso Bandung yang empuk lezat.

Sekian!

garvin

Ada 3 hal yang paling ia suka: budaya, sejarah, dan mendaki gunung. Ia dapat dihubungi melalui @garvingoei.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *