Lomie vs Bakmie, Mana yang Jadi Juaranya? (Mie Ayam Abadi)

Bagi saya, bakmie adalah makanan yang paling praktis untuk disajikan. Selain cepat untuk dimasak, cepat juga untuk disantap. Dan saya rasa hampir semua orang menyukai bakmie, termasuk saya. Selama masa PSBB yang sudah berlangsung sejak Maret 2020 kemarin, salah satu makanan yang saya rindukan adalah bakmie, baik itu mie ayam atau mie babi. Dan karena belakangan ini PSBB sudah dilonggarkan dengan memasuki masa PSBB transisi, saya pergi mengunjungi salah satu rumah makan bakmie yang sudah sering saya lewati, tetapi belum pernah saya coba. Namanya adalah Mie Ayam Abadi.

Mie Ayam Abadi adalah nama sebuah rumah makan yang pertama kali berdiri di Muara Karang, Jakarta Utara, sejak 1974. Hampir 50 tahun usianya, dan tercermin dalam suasana rumah makan ini yang bernuansa oldies alamiSuasana rumah makan yang mungkin akan disukai oleh kakek saya bila beliau masih hidup.

Menu andalan rumah makan ini adalah hokkian lo mie. Bahkan ketika saya memeriksa review-nya di beberapa media daring, beberapa orang menyebut-nyebut lo mie di sini sebagai lo mie terbaik di Jakarta. Penasaran juga, apalagi hokkian lo mie ditulis dalam urutan pertama menu, menandakan menu ini memang andalan mereka.

Lo mie tersaji dengan piring cekung yang masih dapat menampung kuah kentalnya. Aneka sayur dan potongan daging menghiasi tampilan mie tebal yang disiram dengan kuah telur kental. Gumpalan uap panas terangkat ketika saya menuangkan sambal dan mengaduk mie. Harum, dengan aroma bawang putih yang samar dan nampaknya ada tambahan kecap ikan untuk menjadi base kuahnya. Mie yang digunakan sangat tebal, bahkan setebal udon. Teksturnya sedikit keras, mungkin akan lebih enak jika bisa dibuat lebih kenyal. Sedangkan kuahnya kental sekali, yang memang menjadi ciri khas hokkian lo mie, dengan campuran kocokan telur yang memberi rasa gurih. Isiannya berlimpah; ada sawi hijau, wortel, jamur merang, irisan daging babi, jerohan (usus dan hati), bakso ikan, ebi, dan udang. Kaya akan pelengkap.

Kemudian saya juga mencoba memesan mie ayam, karena penasaran juga sebab nama rumah makan ini adalah “Mie Ayam Abadi”, sehingga seharusnya mie ayamnya juga enak sampai-sampai dimasukkan ke dalam nama. Tampilan mienya sederhana, hanya mie rebus dengan irisan ayam rebus, dengan sawi hijau yang dicampur dengan kuah dalam mangkuk terpisah. Meski sederhana, tapi mie ayamnya enak sekali. Mie yang digunakan adalah mie yang sama untuk lo mie, tebal dengan tekstur agak keras. Unik juga, sebab biasanya mie yang digunakan dalam mie ayam jenis ini adalah mie halus, mie keriting, atau mie karet. Bumbunya sederhana, ringan, namun lezat. Cocok sekali di lidah saya. Oh iya, meski namanya adalah mie ayam, tetapi rumah makan ini tergolong non-halal (mengandung babi); sehingga dari aromanya, saya menduga mie ayam yang disajikan menggunakan minyak babi sehingga aromanya lebih harum dan rasanya lebih gurih. Irisan daging ayam rebusnya agak sedikit, namun empuk dan gurih. Dimasak putih begitu saja tanpa terlalu banyak tambahan bumbu, sehingga cocok dengan sajian mienya.

Sebagai pelengkap, saya mengambil bakso goreng yang sudah dipaketkan harus diambil per dua butir. Bakso gorengnya sudah dingin, namun lapisan luarnya tetap renyah dan bagian dalamnya tetap empuk. Tidak mudah untuk membuat bakso goreng dengan tekstur seperti ini meski sudah dingin. Rasa udang cukup terasa. Tergolong ke dalam bakso goreng yang enak.

Selain kedua menu utama di atas, saya mengamati bahwa menu yang cukup sering dipesan adalah nasi campur. Bahkan, saya sempat melihat ada seseorang yang memesan nasi campur sebanyak 15 kotak untuk dibawa pulang. Nampaknya salah satu menu favorit, namun saya belum sempat mencobanya, mungkin untuk kunjungan selanjutnya.
Di antara berbagai makanan yang disajikan, saya menjuarakan mie ayamnya. Hokkian lo mienya memang enak, tetapi saya pernah menyantap hokkian lo mie yang lebih enak lagi di Jakarta. Bisa jadi the best lo mie in town versi orang lain, tetapi belum versi saya. Sedangkan mie ayamnya juga tergolong enak, apalagi tekstur mienya yang jarang disajikan di tempat lain. Jika kembali lagi, maka menu yang akan saya pesan adalah mie ayamnya. Bumbunya ringan namun terasa gurih dan lezat. Nyaman untuk disantap sebagai menu sarapan.

Soal harga, memang agak pricey. Semangkuk hokkian lo mie dihargai Rp58.000, mie ayam dihargai Rp38.000, nasi campur dihargai Rp50.000, dan dua butir bakso goreng dihargai Rp25.000. Harga bakso gorengnya cukup mengagetkan, karena saya sempat mengira harganya hanya Rp20.000 / 2 butir. Tetapi harga yang ditawarkan cukup wajar (harga Agustus 2020), karena tempat makannya luas dan bersih serta rasa makanannya pun tergolong enak. Baik resep dan suasananya terasa klasik.

Kesan saya, rumah makan ini cukup direkomendasikan untuk dikunjungi. Varian menunya banyak (mereka juga menyediakan berbagai masakan chinese food), rasanya enak, serta kebersihannya terjamin. Yang sedikit minus mungkin pelayanannya yang terlalu kaku (tidak ada sapaan maupun senyum, tetapi ini bukan masalah) dan harganya juga lumayan tinggi. Favorit saya, mie ayamnya yang ringan lezat.

Mie Ayam Abadi
Jl. Pluit Karang Timur (Muara Karang)
Blok O8 Timur no.63 Pluit, Jakarta Utara
Jam buka: 08.00 – 21.00

01/08/20

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *