Saat orang-orang mendengar kata bakcang, yang biasanya terbayang adalah makanan berisi daging atau kacang. Tapi di Tangerang, bakcang memiliki kisah dan makna yang lebih dalam. Setiap tahun, di festival Peh Cun, tradisi ratusan tahun ini tetap lestari; ada ritual memandikan perahu di tengah malam, memanjatkan doa di depan perahu naga, hingga kisah tragis seorang pejabat yang rela mengorbankan diri demi negaranya.
Tahun ini, saya berkesempatan menyaksikan langsung bagaimana semuanya berlangsung.
Apa Itu Festival Peh Cun?
Peh Cun, atau Duan Wu Jie (端午節) dalam budaya Tionghoa, adalah perayaan yang jatuh setiap tanggal 5 bulan 5 dalam penanggalan Imlek. Di Indonesia, terutama di kalangan masyarakat Tionghoa Benteng di Tangerang, tradisi ini dirayakan secara meriah di tepi Sungai Cisadane.
Secara internasional, Peh Cun lebih dikenal sebagai “Dragon Boat Festival” karena adanya perlombaan mendayung perahu naga (kata “peh cun” sendiri berasal dari “peh liong cun”, yang berarti mendayung perahu naga dalam Bahasa Hokkian). Namun, di balik kemeriahan ini, tersimpan kisah pengorbanan Qu Yuan (atau Koet Goan dalam pelafalan Hokkien), seorang pejabat negara Chu di Tiongkok kuno, sekitar tahun 300an sebelum masehi.
Asal Usul Bakcang dan Peh Cun
Qu Yuan dikenal sebagai pejabat yang jujur dan setia. Namun karena fitnah dari pejabat-pejabat lain yang iri hati kepadanya, ia difitnah berniat melengserkan raja hingga diasingkan dari perpolitikan di negara itu. Saat negaranya kalah perang, Qu Yuan merasa gagal melindungi tanah airnya dan akhirnya bunuh diri dengan melompat ke Sungai Miluo.
Rakyat yang mencintainya berusaha mencari jasadnya dengan mendayung perahu di sungai. Mereka juga melemparkan beras ke sungai untuk mencegah ikan memakan tubuh Qu Yuan. Mereka membawa beras itu dengan dibungkus oleh daun bambu. Bungkusan nasi itulah yang kini kita kenal sebagai bakcang.
Pengalaman Mengikuti Peh Cun di Tangerang
Tanggal 30 Mei 2025, saya tiba di Tangerang saat hari menjelang sore. Suasana Boen Tek Bio, kelenteng tertua di Tangerang yang menjadi salah satu pusat kegiatan, sudah mulai ramai. Di gang bagian depan, perahu naga disiapkan untuk ritual di malam hari. Di sepanjang gang itu pula diselenggarakan bazaar yang menjual aneka jajanan dan minuman.




Malam harinya, saya menuju Koet Goan Bio, kelenteng yang khusus dibangun untuk memuja Qu Yuan (Koet Goan). Di sini, ratusan orang berkumpul. Ada pertunjukan gambang kromong, bazaar, hingga ritual sembahyang yang berlangsung hingga tengah malam.
Puncaknya terjadi saat jam menunjukkan pukul 12 malam: ritual pemandian perahu naga. Air yang telah didoakan dibasuhkan ke perahu sebagai simbol penyucian. Setiap pengunjung pun diberi air berkah untuk membasuh diri, dipercaya membawa harapan baik bagi orang itu. Suasana khidmat sekaligus meriah terasa menyatu malam itu.



Tradisi Unik di Sungai Cisadane
Keesokan paginya, festival berlanjut di tepi Sungai Cisadane. Upacara sembahyang dilakukan di altar Toapekong Air, menghadap langsung ke sungai. Salah satu tradisi menarik di hari Peh Cun adalah mendirikan telur. Konon, di hari ini, gravitasi bumi memungkinkan telur berdiri tegak tanpa penyangga. Banyak pengunjung mencoba dan banyak yang berhasil.
Acara pun berlanjut dan semakin seru: lomba tangkap bebek menggunakan perahu. Peserta berlomba menangkap bebek hidup yang dilepaskan ke sungai, diiringi sorak sorai penonton. Festival kemudian ditutup dengan kegiatan pamungkasnya: lomba dayung perahu naga yang seru dan penuh semangat, bahkan diliput oleh media nasional. Saking meriahnya, lomba dayung perahu naga ini diselenggarakan sampai dua hari.




Lebih dari Sekadar Festival
Mengikuti Festival Peh Cun di Tangerang bukan sekadar menyaksikan pertunjukan budaya. Ada nilai sejarah, pengorbanan, dan warisan leluhur yang terus dijaga oleh masyarakat Tionghoa Benteng. Melihat generasi muda ikut terlibat, merias perahu, mendirikan telur, hingga bersembahyang, membuat saya tersadar bahwa tradisi ini bukan hanya untuk dirayakan, tapi untuk diwariskan.
Jika suatu saat Anda punya kesempatan, cobalah datang ke Tangerang saat Peh Cun berlangsung. Di sana, Anda akan menemukan bagaimana sejarah, budaya, dan kebersamaan berpadu dalam sebuah festival yang sarat makna.
Sambil memandang Sungai Cisadane, lagu Gambang Kromong berjudul “Nonton Peh Cun” pun terdengar, diputar berulang-ulang oleh panitia:
“Lihat orkes, cokek, dan gamelan
Pade ngibing, tarinya igel-igelan
Tiap tahun, eh eh ramai sekali
Nonton peh cun, senang di hati…”




