Bogor adalah kota yang paling sering saya kunjungi di Jawa Barat. Alasannya sederhana, saya tinggal di Jakarta dan cukup naik KRL selama 90 menit saja untuk tiba di sana. Aktivitas favorit saya di sana, ya wisata kuliner. Hidangan khas Bogor seperti laksa, soto mie, dan lumpia basah adalah makanan favorit saya.
Tapi suatu hari, saya mendapat undangan acara di Cibinong, sebuah kota kecamatan kecil di Kabupaten Bogor. Jauh dari pusat Kota Bogor. Karena saya hendak berkegiatan di kelenteng Cibinong, saya mencari tempat makan menarik di sekitar sana. Dan saya menemukan ada rumah makan Chinese food yang sudah “senior”, terletak persis di samping kelenteng.


Tempatnya memang tidak besar. Bagian luar dari rumah makan terasa jadul, dengan ubin tegel dan kipas angin gantung ala zaman dulu. Tapi bagian dalamnya ternyata sudah tidak jadul lagi, infonya memang sempat terjadi kebakaran sehingga direnovasi.
Kami langsung mencari tempat duduk dan seorang pemuda (nampaknya anak pemilik rumah makan) langsung menyodorkan buku menu kepada kami. Ada banyak sekali hidangan; mulai dari sekadar nasi atau mie goreng, sampai masakan ayam, sapi, seafood, babi, dan sayuran.
Saya memesan dua menu saja, karena saya hanya ditemani oleh seorang teman. Cap cay goreng dan bistik sapi, itu dua hidangan yang kami lihat menarik dan juga diberi tanda “jempol” di lembar menu, pertanda masakan yang direkomendasikan.
Waktu memasaknya cukup lama, kami perlu menunggu 30 menit agar kedua hidangan itu tersaji di meja makan. Padahal saat itu kondisi rumah makan hanya ada kami. Tapi saya tidak terlalu mempermasalahkan, toh saya juga sedang tidak terburu-buru.



Bistik sapinya tidak seperti harapan. Hidangan ini lebih tepat dideskripsikan sebagai “dadar” berisi potongan-potongan kecil daging sapi. Dadarnya terasa dominan tepung, yang memberikan tekstur crunchy tetapi akhirnya rasa daging sapinya kurang terasa. Meski kurang memuaskan, tetapi saus bistiknya boleh juga untuk disiram ke atas nasi. Aroma kecap Inggris dengan cita rasa manis gurih mendominasi. Oh iya, bila kita melihat harganya (Rp55.000), saya bisa memahami mengapa potongan daging sapinya kurang banyak.
Sedangkan cap cay tergolong enak. Kami memesan cap cay goreng seafood, sehingga isinya tidak hanya tumisan sayur saja, tetapi ada bakso ikan, cumi, dan udang. Cuminya fresh sekali, teksturnya renyah. Sayurannya juga dimasak dengan pas sehingga tidak ada yang keras. Oh iya, sayurnya ada kembang kol, wortel, sawi putih, sawi hijau, jagung muda, jamur kuping, dan brokoli. Ya, kehadiran brokoli memberikan pembeda antara cap cay di tempat ini dengan cap cay di restoran Chinese food lainnya. Aroma bawang putih dan saus tiram yang menjadi bumbu utama hidangan ini juga pas sehingga kesan “makanan rumahan” terasa sekali.
Oh iya, kita juga mendapatkan condiment sambal dan acar timun. Kehadiran acar timun berguna sekali, sebab memberikan citarasa asam segar yang menyeimbangkan kedua hidangan yang kami pesan.

Sambil bersantap siang, ada pelanggan berusia paruh baya datang yang nampaknya langganan rumah makan ini. Sambil memesan mie goreng, beliau bersenda gurau dengan pemilik rumah makan, “Gua sudah lama gak datang, nih!” Terlihat rumah makan ini memiliki pelanggan setia selama belasan – atau bahkan puluhan – tahun.
Seporsi bistik sapi dihargai Rp55.000, cap cay seafood Rp45.000, dan sepiring nasi putih Rp6.000, dengan teh hangat gratis. Meski hanya dua lauk, sebenarnya kami kekenyangan untuk menghabiskannya, sebab porsi masakannya tergolong besar. Jadi, menurut saya harganya sudah fair.
Kapan-kapan mau datang lagi mencoba mie goreng yang katanya menjadi menu favorit tempat ini.




