Bukan cuma Solo dan Bandung, Purwokerto Juga Punya Serabi Khasnya Sendiri!

Berbicara tentang camilan khas Indonesia, ada satu nama yang mungkin menjadi kegemaran banyak orang: serabi. Tekstur dan rasa yang mirip dengan pancake ini memang enak disantap sore-sore sebagai camilan, atau pagi hari sebagai teman minum teh. Berbicara tentang serabi, ada dua kota yang sudah terasosiasi kuat: Solo dan Bandung. Orang-orang akan teringat pada serabi khas Solo yang bercita rasa gurih santan atau serabi khas Bandung yang berguyur kuah kinca manis legit atau serabi gurihnya yang ber-topping oncom.

Sepanjang saya menjelajahi kota-kota di Indonesia, memang tidak ada kota lain yang memiliki serabi yang unik dan autentik. Di Jakarta, misalnya, serabi yang saya temukan tidak jauh berbeda dengan serabi Solo dan serabi Bandung. Di Tasikmalaya dan Purwakarta, serabi yang saya temukan adalah serabi khas Sunda (yang juga bisa dengan mudah ditemui di Bandung) yang disantap bersama oncom atau telur.

Namun ternyata ada kota lain yang menawarkan santapan serabi yang khas dan autentik, berciri khas yang berbeda dengan serabi Solo maupun Bandung. Kota ini bukanlah kota besar, bahkan sebenarnya hanyalah kota kecil yang masih berada di bawah naungan Kabupaten. Nama kota itu adalah Purwokerto. Dan setiap saya berkunjung ke Purwokerto, saya pasti akan menyempatkan diri menyantap serabi khas kota mendoan ini.

Apa bedanya serabi Purwokerto dengan serabi lainnya? Pertama, serabi Purwokerto hanya memiliki “dua” warna, yakni warna merah kecoklatan dan warna putih. Lapisan luar serabi berwarna putih yang merupakan adonan santan, dan lapisan dalamnya berwarna merah coklat yang merupakan adonan gula merah. Kedua, berbeda dengan rasa serabi Notosuman khas Solo yang bercorak gurih santan, rasa serabi Purwokerto justru lebih diwarnai corak manis. Lapisan putihnya yang berbahan dasar santan justru tidak menawarkan sensasi gurih ala Notosuman. Bagian terbaiknya justru di lapisan dalam yang berwarna merah kecoklatan, berbahan dasar gula merah. Kekuatan serabi Purwokerto adalah di rasa manis legitnya. Ketiga, tekstur serabi Purwokerto lebih kaya daripada serabi Solo maupun Bandung. Di dalam adonan serabi Purwokerto disertakan rajangan kelapa tua yang ketika disantap akan memberikan sensasi krenyes-krenyes yang tidak akan ditemui pada serabi lainnya. Ini juga menjadi kekuatan serabi Purwokerto.

Serabi Purwokerto

Mencari serabi Purwokerto ini perlu perjuangan tersendiri. Pasalnya, penjual serabi ini hanya ada di pagi hari. Mulai sekitar jam 5 pagi, akan nampak mbok-mbok yang sedang memanggang serabi di beberapa titik pinggir jalan kota Purwokerto. Mbok-mbok ini berjualan hanya mulai dari jam 5 pagi sampai sekitar jam 7 hingga jam 8. Malah terkadang kita tidak akan berhasil mendapatkan serabi ini jika waktu sudah menunjukkan pukul 8 pagi. Dan jika anda berhasil menemukan penjual serabi Purwokerto ini, biasanya anda juga harus menunggu. Sejauh ini saya harus selalu mengantri dan menunggu giliran, paling cepat 30 menit. Sehingga akhirnya saya punya trik untuk mendapatkan serabi ini: bangun sekitar jam 6 pagi, lalu langsung menuju penjual serabi, pesan serabinya dan katakan pada Mbok bahwa jam 7 akan kita ambil. Pulang ke hotel, mandi, kembali lagi jam 7, ambil, makan, enak. Apalagi jika ada secangkir kopi / teh yang menemani.

Resepnya yang masih tradisional memberikan citarasa autentik dalam hidangan ini. Mbok penjual serabi ini menggunakan kayu bakar dalam memasak serabi, yang tentu saja memberikan aroma khas yang lebih tradisional. Lapisan luarnya yang berwarna putih biasanya lebih dominan terasa tawar dengan sedikit sentuhan rasa gurih santan yang amat tipis. Lapisan dalamnya yang biasanya saya tunggu-tunggu, sebab rasanya manis dan legit. Konon katanya konsep lapisan dalam dan luar ini memiliki filosofi: untuk menikmati yang manis, kita harus menikmati yang tawar dulu. Sebelum mengharapkan hidup yang bahagia, kita harus bersedia menjalani hidup yang sederhana dulu. Atau dalam konsep psikologi dikenal istilah delayed gratification, tunda dulu kesenangan sementara untuk mendapatkan kesenangan yang lebih hakiki. Makan serabi saja sampai ada ilmunya ya…

Tekstur kelapa yang dirajang dan disertakan ke dalam adonan merupakan bagian terfavorit saya. Sambil mengunyah serabi yang lembut, kita juga akan ditemani oleh sensasi krenyes-krenyes kelapa. Ini membuat pengalaman memakan serabi menjadi lebih “ramai” dibandingkan resep serabi khas daerah lainnya. Dan sama seperti serabi Solo, serabi Purwokerto tidak menggunakan kuah atau cocolan kinca lagi.

Serabi Purwokerto

Harga serabi (per Januari 2020) adalah Rp2000 per buah, tetapi ini nampaknya harga untuk wisatawan, sebab pernah saya datang dan menanyakan harga, si Mbok mengatakan Rp2000 per buah. Tetapi ketika teman saya yang asli Purwokerto datang dan berbicara menggunakan Bahasa Jawa dengan si Mbok (kata teman saya, ia memberitahu si mbok bahwa saya ini temannya, jadi jangan dimahalin), saya mendapatkan lima buah serabi ketika menyodorkan uang Rp5000. Wah, ternyata si mbok pintar melihat kesempatan juga nih! Meskipun bagi saya, harga dua ribu Rupiah adalah harga yang pantas untuk serabi ini, sebab untuk pancake yang beradonan tepung dan susu saja bisa dihargai Rp20ribu per buah. Tapi agar bisa dinikmati oleh berbagai kalangan, saya tetap mendukung harga serabi Rp1000 per buah (hehehe…). Khusus bagi teman-teman yang datang dari kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan sebagainya; jangan protes atau menawar ya ketika dipatok harga Rp2000 per serabi, sebab dengan cara inilah kita mendukung perekonomian warga lokal dan melestarikan resep autentik nusantara. Toh itu masih harga yang pantas dan masuk akal.

Usai mendapatkan seplastik serabi yang sudah dibungkus daun pisang, saya langsung kembali ke sepeda motor sewaan saya, menyalakan mesinnya, lalu bersiap-siap untuk beranjak pergi. Tukang parkir langsung menyempritkan peluit dan menghentikan kendaraan lain yang akan melintas. Saya berikan uang Rp2000 sebagai ucapan terima kasih sudah dibantu keluar masuk parkir, sang petugas parkir menerima uang tersebut, merogoh-rogoh kantongnya, lalu mengeluarkan uang koin Rp1000 kepada saya. Ternyata ada kembaliannya.

Pagi itu langit kota Purwokerto sangat cerah setelah semalam sebelumnya diguyur hujan deras. Saya buru-buru kembali ke hotel, menyeduh kopi hitam, lalu menyantap setangkup serabi Purwokerto sebagai menu sarapan. Nikmat.

Serabi Purwokerto

Tulisan lainnya tentang Purwokerto dan Baturraden:

garvin

Ada 3 hal yang paling ia suka: budaya, sejarah, dan mendaki gunung. Ia dapat dihubungi melalui @garvingoei.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *