Ada Apa di Purwokerto? Kesan Saya Tentang Kota Kelahiran Bank…

Sebenarnya kunjungan saya ke Purwokerto bukan untuk tujuan berlibur, melainkan untuk menghadiri konferensi ilmiah dari salah satu universitas swasta di sana.

Tapi ya… mumpung sudah sampai ke sini, naik kereta 5 jam pula, maka tentu saya tidak akan menghabiskan sisa waktu kosong hanya untuk sekadar tidur di kamar hotel. Jadilah, di sela-sela waktu kosong atau di hari terakhir sebelum pulang, saya berkeliling sebentar menikmati kota Purwokerto, dan ini yang saya temukan:
Stasiun Purwokerto

1. Purwokerto memiliki cukup banyak mall!

Sebenarnya bagi orang yang lahir dan besar di Jakarta seperti saya, pergi ke mall ketika melancong ke luar kota (selama masih di Indonesia) adalah hal yang paling rugi! Bukannya sombong, tapi memang mall di Jakarta dan Tangerang masih tidak terkalahkan oleh mall-mall di kota lainnya di Indonesia, termasuk di Purwokerto. Tapi, ya, saya masih juga iseng-iseng masuk ke dalam mall untuk memuaskan penasaran mengenai isinya. Itupun karena saya kebetulan melihat mall.

Mall Rita Purwokerto

Setidaknya ada tiga mall yang saya temukan di sini (aslinya mungkin lebih dari tiga). Yang unik adalah, ketiga mall tersebut menggunakan nama “Rita”, jadi ada Rita Pasaraya, Rita Plaza, dan Rita Supermall. Singkat cerita, bosnya sama! Saya membayangkan betapa kaya rayanya si “Rita” ini.

Dari ketiganya, yang paling besar dan paling bagus adalah Rita Supermall. Tapi isinya sebenarnya juga standar, kurang lebih seperti mall Pluit Village di Jakarta. Ada JCo, Es Teler 77, Shi Da, dan sebagainya untuk makanan; sedangkan untuk fashion, saya kurang memerhatikan tapi saya menemukan Executive di sana.

Nah, hal unik lainnya yang saya temui di sini adalah ketika saya iseng masuk ke foodcourt dari Rita Supermall. Kalau di Jakarta, pemandangan dari gedung bertingkat ya sesama gedung tinggi juga; tapi ketika di Purwokerto, kita bisa melihat pemandangan gunung dari dalam mall! Ya, sebenarnya wajar saja sih karena Purwokerto berada cukup dekat dengan Gunung Slamet. Tapi karena terbiasa hidup di Jakarta, norak juga menyadari kita bisa melihat gunung dari dalam mall.

2. Berburu Kuliner atau Sekadar Bersantai di Malam Hari? Alun-Alun atau GOR

Ya namanya juga sedang di kota lain, jadi ketika malam tiba, bawaannya kepingin keliling-keliling melihat-lihat Purwokerto. Rasanya ada dua tempat yang saya rekomendasikan ketika ingin menikmati Purwokerto di malam hari sambil membaur dengan warga setempat: alun-alun dan GOR Satria.

alun-alun purwokerto kabupaten banyumas, jawa tengah

alun alun purwokerto malam hari

Di alun-alun, dari sore hari kita sudah bisa melihat para penjaja makanan mulai membuka lapaknya. Ada banyak hidangan yang bisa kita cicip, sebut saja yang siomay, batagor, bakmie, cilok, cimol, sosis bakar, sampai empek-empek. Kalau ingin yang lebih unik, ada juga pecel khas Purwokerto yang saya rekomendasikan untuk dicoba, sebab pecel di sini menggunakan bunga kecombrang sebagai campurannya. Rasanya? Aroma bunga kecombrang agak tajam dan khas, sehingga mungkin bagi sebagian orang kurang suka. Selain itu, bunga kecombrang juga sedikit masam. Tapi menurut saya sih enak-enak saja. Coba saja main ke alun-alun dan cari tukang pecel, lalu coba pecel bunga kecombrang.

Punya budget lebih dan ingin hidangan yang lebih premium? Di depan GOR Satria, kita bisa menemukan banyak kafe-kafe dengan sajian yang lebih istimewa. Sebut saja dari yang umum seperti Shi-Da atau Sego Sambel SS; sampai yang unik seperti Es Duren Bancar, Cafe D’Mange, sampai Bebek Goreng Haji Slamet. Sepanjang jalan di depan GOR tersebut, kita bisa menemukan puluhan kaki lima maupun rumah makan yang menjual variasi makanan! Tinggal pilih saja mau yang mana.

Purwokerto

Pengalaman saya, di Purwokerto jam 9 malam sudah sepi sekali. Sebagian rumah makan pasti sudah tutup. Kalau kamu menginap di hotel di sekitar Jl. Sudirman dan tidak ingin pergi terlalu jauh dari sekitar hotel, ada beberapa penjual roti bakar yang berjualan sampai tengah malam. Misalnya roti bakar Shinchan yang ada di dekat COR Hotel (tempat saya menginap). Di sana tersedia susu hangat, wedangan, tape bakar, jagung serut, sampai hidangan cukup berat seperti nasi ponggol setan khas Tegal. Sang penjual juga cukup ramah, kita bisa mengobrol santai dengan penjualnya bila sedang tidak terlalu ramai.

Dunia malam? Ada. Tapi berhubung saya tidak clubbingya saya tidak bisa menceritakan apapun.

3. Soto Jalan Bank yang Legendaris

Kalau kamu datang ke Purwokerto dengan kereta (pilihannya hanya dengan kereta atau mobil sih, karena di Purwokerto tidak ada bandara), maka pastikan kamu menyambangi Jalan Bank yang berada tidak jauh dari stasiun. Nama aslinya adalah Jl. Wirya Atmaja, tapi dengan menyebut Jalan Bank sebenarnya orang-orang sudah tahu, sebab di sanalah tempat Bank Rakyat Indonesia atau BRI didirikan.

Oh iya, mengapa saya menyarankan untuk ke Jalan Bank? Sebab di sini ada penjual soto sokaraja yang khas Purwokerto dan nikmat sekali. Ya, keunikan Indonesia adalah di setiap daerah memiliki soto khasnya masing-masing. Bila di Jakarta ada soto betawi dan di Solo ada soto kwali, maka di Purwokerto ada soto sokaraja. Soto sokaraja berisi daging ayam, kecambah, soun, dan daun bawang sebagai isian serta menggunakan kuah kaldu ayam sebagai guyurannya. Ciri khas dari soto sokaraja adalah penggunaan bumbu kacang dan disantap dengan lontong (bukan nasi).

Soto Sokaraja Purwokerto

Salah satu penjual yang paling terkenal adalah Soto Haji Loso. Sebut saja kepada tukang becak atau ojek di stasiun, pasti diantar ke sana. Harganya Rp16.000 semangkuk (dengan lontong). Rasanya segar sekali. Selain menjual soto, warung Haji Loso juga menjual oleh-oleh khas Purwokerto yang bisa kita jadikan buah tangan untuk rekan di tempat asal.

Tidak jauh dari warung milik Haji Loso, ada juga penjual soto yang bernama Soto Sungeb. Saya mengetahuinya dari ojek yang mengantar saya. Menurut informasi, awalnya yang berjualan soto di Jalan Bank adalah Haji Sungeb, kemudian pecah dan munculah Soto Haji Loso. Mengenai benar-tidaknya informasi tersebut, ya saya tidak tahu. Tapi karena penasaran saya juga ikut mencoba soto yang dijual oleh Haji Sungeb. Secara isi dan rasa sih memang kurang lebih sama, hanya saja bumbu kacang yang dijual di warung Haji Loso lebih pedas. Harganya juga sama, Rp16.000 seporsi.

4. Museum BRI!

Kalau sudah terlanjur di Jalan  Bank, ya sekalian saja berkunjung ke Museum BRI. Letaknya tidak jauh dari warung Haji Loso, cukup berjalan kaki sekitar 100 meter. Sejarahnya, BRI memang pertama kali didirikan di Purwokerto, oleh Raden Wiria Atmaja pada tahun 1895. BRI terbentuk atas kekhawatiran Raden Wiria Atmaja melihat banyak rakyat Indonesia yang berhutang kepada tengkulak dengan bunga tinggi sehingga mereka tidak sanggup melunasi hutangnya. Oleh karena itu, Raden Wiria berniat mendirikan bank yang bisa memberikan pinjaman dengan bunga wajar bagi rakyat.

Tiket masuknya gratis, cukup isi buku tamu. Isi museum tidak terlalu banyak, tetapi kita bisa melihat koleksi uang-uang kuno, alat-alat perbankan dari zaman dulu, termasuk kalkulator. Menarik sih.

Sayangnya, jam bukanya agak nanggung, yakni Minggu-Kamis pukul 9.00 hingga 14.00; sedangkan Jumat-Sabtu tutup.

5. Wajib Coba: Surabi Purwokerto!

Dari Mbah Google, saya dapat informasi kalau di Purwokerto juga ada surabi yang khas dan berbeda dengan surabi Bandung maupun Solo. Saya pun berusaha mencari-cari di sore hari, tetapi tidak berhasil menemukannya. Bertanya kepada orang hotelsaya mendapat informasi kalau penjual surabi di Purwokerto hanya ada di pagi hari, sebelum jam 10.

Maka, dengan rasa penasaran yang tinggi, saya bangun keesokan harinya pukul 5 pagi. Tanpa ba bi bu, saya langsung menggunakan aplikasi gojek (ini bukan promosi ya, sebab di Purwokerto cuma ada gojek) dan langsung memesan ojek dari hotel ke lokasi yang dilabel dengan “Surabi Purwokerto”. Sebenarnya ada dua penjual surabi yang terkenal di sini, yakni Surabi Cikal dan Surabi Purwokerto; tapi setelah bertanya-tanya kepada warga setempat, Surabi Cikal lebih terkenal tetapi Surabi Purwokerto lebih tradisional. Mau coba yang mana, ya terserah, toh sama-sama menjual surabi khas Purwokerto.

Ketik saja di gojek: “Surabi Purwokerto”, maka kita akan diantar ke Jl. Kusuma Wijaya. Di sana ada mbok-mbok yang sedang berjualan surabi dengan antrian yang cukup panjang. Meski saya tiba pukul 5.30 pagi, tapi yang pesan sudah banyak sehingga saya harus mengantri. Tapi untunglah driver gojek saya baik sekali. Ternyata ia mengenal ibu penjual surabi dan dengan menggunakan Bahasa Jawa berkata, “Ini tamu saya dari Jakarta, tolong dilayani duluan karena sedang ada urusan,” sehingga saya tidak perlu mengantri terlalu lama.

serabi asli purwokerto banyumas regency central java

Surabi Purwokerto

Surabi Purwokerto menggunakan dua macam adonan: adonan putih yang berasal dari santan, dan adonan merah yang berasal dari gula jawa. Rasa yang dominan dari Surabi Purwokerto adalah manis legit gula jawa, kontras dengan rasa Surabi Solo yang dominan gurih santan. Selain itu, ampas kelapa yang ikut dimasukkan ke dalam adonan memberikan tekstur renyah saat surabi dikunyah. Menurut saya makanan ini enak dan khas sekali, wajib coba kalau datang ke Purwokerto. Dan ingat, sebelum jam 10 pagi!

6. Naik-Naik ke Puncak Gunung Baturraden

Tempat wisata di Purwokerto memang tidak terlalu banyak. Bila ingin refreshing, ya mall, alun-alun, atau GOR. Mentok-mentok, ya museum BRI. Sehingga, bila kita sedang mengunjungi Purwokerto dan ingin berwisata lebih jauh lagi, kita bisa berpindah sejauh 13 km dari pusat kota Purwokerto menuju Baturraden, sebuah kecamatan di Kabupaten Banyumas yang menawarkan berbagai wisata alam.

Tujuan utamanya adalah Lokawisata Baturraden. Dengan tiket masuk sebesar Rp13.000, kita bisa masuk dan menikmati suasana sejuk khas dataran tinggi (Baturraden sendiri berada di kaki Gunung Slamet). Ada banyak hal yang bisa dilakukan di sini, yakni menikmati makanan khas Purwokerto (ada banyak penjual pecel bunga kecombrang dan mendoan di sini), mencoba pancuran air panas, pancuran telu (tambah lagi tiket masuk Rp13.000), mencoba flying fox (tambahan biaya lagi), atau ke taman botani.

baturraden purwokerto

baturraden purwokerto

Kalau beruntung dan tidak merasa terganggu, kita bisa menemukan pengamen dengan alat musik khas Banyumas seperti calung, gambang, dan kendang. Mereka akan memainkan lagu-lagu berbahasa Jawa yang kental dengan nuansa tradisionalnya. Menurut saya, keren! Banyak juga wisatawan yang turut menyimak penampilan mereka dan merekamnya dalam ponsel.

Keluar dari Lokawisata, tak jauh (sekitar 2 kilometer), kita bisa menemukan Curug Pinang yang masih belum ramai dikunjungi, bahkan hanya ada saya sendiri di sana. Sebenarnya Curug Pinang memang tidak terlalu istimewa, sebab ketinggian air terjunnya juga tergolong biasa saja, mirip seperti Curug Sidomba di Kuningan. Masuknya gratis, silakan nikmati suara air terjun yang menenangkan di sini.

Lanjut berjalan lagi sekitar 1-2 kilometer, kita bisa masuk ke Telaga Sunyi (tiket masuknya Rp13.000). Di sini kita bisa menikmati ketenangan dan kesunyian khas dataran tinggi. Air telaganya jernih sekali hingga kebiru-biruan, banyak yang menceburkan diri dan berenang di sana.

telaga sunyi baturraden

Sebenarnya masih banyak tempat wisata di Baturraden, misalnya Sekolah Alam, Wanawisata Baturraden, Baturraden Adventure Forest, Curug Telu, Curug Gede, dan sebagainya; hanya saja waktu yang tidak memungkinkan saya untuk mengunjungi semuanya.

7. Mendoan Everywhere!

Tidak heran kalau Purwokerto dijuluki sebagai kota mendoan, sebab di sini memang banyak sekali penjual mendoan! Mulai dari warkop, warung nasi, penjual soto, sampai sarapan di hotel pun pasti menyajikan tempe mendoan! Memang, rasa tempe mendoan di Purwokerto lebih enak, sebab tempe yang digunakan juga berbeda. Tempe yang digunakan sebagai mendoan di Purwokerto adalah tempe yang sejak awal diproduksi untuk dijadikan mendoan, yakni tempe yang dibuat tipis melebar dan dibungkus dengan daun pisang. Sedap sekali disajikan hangat, kemudian ditemani teh melati Jawa manis, beeuuuhhh….

Tempe mendoan

8. Sebelum Pulang: Belanja Oleh-Oleh di Sawangan

Kurang afdol kalau tidak membawa buah tangan untuk kerabat di tempat asal. Oleh karena itu, sebelum pulang kita bisa berkunjung ke daerah Sawangan yang tidak jauh dari Stasiun. Di sana berjejer toko oleh-oleh yang bisa kita kunjungi. Oleh-oleh khas Purwokerto ya gethuk goreng, keripik tempe, nopia, dan sebagainya. Kalau saya sarankan beli gethuk goreng karena memang khas Purwokerto.

Usai berbelanja oleh-oleh, saya pun segera check-in di stasiun dan pulang menuju Jakarta. Terima kasih Purwokerto untuk pengalamannya!

garvin

Ada 3 hal yang paling ia suka: budaya, sejarah, dan mendaki gunung. Ia dapat dihubungi melalui @garvingoei.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *