garvin Ada 3 hal yang paling ia suka: budaya, sejarah, dan mendaki gunung. Ia dapat dihubungi melalui @garvingoei.

Jajanan Khas Bandung vs Jakarta: Kulineran Iseng di Kota Kembang

5 min read

cilok bandung

Ide tulisan ini muncul mendadak, ketika saya sedang mendapatkan tugas kerja di Kota Bandung selama tiga hari. Memang dasar tukang makan, di sana saya mencicipi berbagai street food yang saya temui, mulai dari camilan sampai makanan berat. Namun Kota Bandung memang sudah mirip dengan Kota Jakarta, mulai dari gedung-gedung megahnya, jumlah mall-nya, kemacetannya… bahkan hingga street food-nya. Bisa dibilang sebagian besar street food di Kota Bandung juga ada di Jakarta. Di sana saya menemukan tukang bakso, nasi goreng, soto, pecel lele, cilok, cimol, dll. Khusus dalam tulisan ini, saya ingin membandingkan pengalaman saya mencicipi street food khas Kota Bandung yang juga sudah banyak ditemukan di Jakarta.

Oh iya, saya jelaskan dulu kalau:

  • perbandingan ini merupakan pengalaman pribadi penulis, jadi bisa saja berbeda dengan pengalaman pembaca,
  • street food yang diulas di sini hanya yang penulis temui di Kota Bandung, karena kemarin penulis ke Kota Bandung saja (tidak ke Cimahi ataupun Bandung Barat),
  • agar apple to apple, perbandingannya hanya street food (kaki lima, warung pinggir jalan, dsb.) di Bandung dan Jakarta. Restoran tidak termasuk,
  • perbandingannya saya gunakan skala 1 sampai 5. Nilai 1 artinya buruk sekali sampai-sampai saya tidak akan mencobanya lagi, sedangkan nilai 5 adalah enak sekali yang berarti pasti saya coba lagi,
  • ini tulisan santai dan iseng-iseng, isinya jangan terlalu dibawa serius 🙂

Here we go…

1. Cilok

Aci (sagu) dicolok. Bisa dibilang cilok pernah menjadi salah satu jajanan favorit saya waktu kecil. Makanan asal Bandung ini sudah sangat mudah ditemui di Jakarta. Nah, kalau di Jakarta, ciloknya tidak enak. Isinya hanya murni sagu tanpa tambahan bumbu-bumbu apapun sehingga rasanya cenderung hambar (meski sudah disiram bumbu kacang). Berbeda dengan di Kota Bandung. Saat itu saya membelinya dari seorang pedagang cilok yang berjualan dengan mobil pick-up (seperti tukang tahu bulat) di daerah Babakan. Ciloknya ada yang berisi sosis maupun abon. Ada juga “tahu basah” sebagai variasi. Menurut saya rasanya jauh lebih enak yang di Kota Bandung. Dari segi harga, cilok di Kota Bandung juga jauh lebih murah (Rp500 sebutir).

cilok bandung

Cilok tahu basahnya enak juga.

  • Cilok streetfood Kota Bandung = 4
  • Cilok streetfood Jakarta = 1

Tapi saya tetap lebih suka cilok (pentol) yang saya makan di Malang, sih…

2. Cimol

Aci digemol. Kalau cilok direbus, maka cimol digoreng. Cimol juga tak kalah populer dengan cilok di Jakarta. Hampir di setiap sudut Jakarta sudah bisa ditemukan cimol. Di Kota Bandung saya mencoba cimol dari pedagang gerobakan yang sedang berjualan di sekitar Universitas Maranatha. Soal rasa, sepertinya baik yang di Jakarta dan Bandung sama-sama enak. Hanya saja bumbu serbuk yang di Jakarta rasanya asin-manis, sedangkan yang di Bandung hanya asin. Tapi itu jadi selera masing-masing. Satu-satunya yang membuat saya lebih suka cimol di Bandung hanya masalah harga, di Bandung Rp3.000 saya dapat seplastik kecil penuh, sedangkan di Jakarta paling hanya mendapat 3 sampai 6 butir.

Cimol Bandung

Rp3.000 dapat seraup

  • Cimol streetfood Kota Bandung = 4
  • Cimol streetfood Jakarta = 4

3. Cireng

Orang Bandung memang suka dengan aci (sagu). Cireng berasal dari aci digoreng. Di Jakarta, cirengnya ada bermacam varian isi, ada yang isi bakso sapi, kornet, keju, ayam cincang, bahkan sampai isi coklat. Sedangkan di Kota Bandung, isinya hanya ada kornet dan keju. Entah yang lainnya sedang habis atau memang hanya ada itu. Tapi soal rasa, tidak ada beda. Baik yang di Bandung atau Jakarta, saya sama-sama suka.

cireng bandung

  • Cireng streetfood Kota Bandung = 4
  • Cireng streetfood Jakarta = 4

4. Seblak

Akhirnya kesampaian juga makan seblak di Bandungnya langsung. Seblak di Bandung, aroma kencurnya lebih terasa. Enaknya seblak Bandung, varian topping-nya jauh lebih banyak daripada yang di Jakarta. Di Bandung bahkan sampai ada topping kikil! Selain itu, di Bandung jenis kerupuknya juga bervariasi, tidak seperti di Jakarta yang kerupuknya hanya satu macam (kerupuk aci). Soal seblak, jelas Bandung juaranya, meski yang di Jakarta juga sebenarnya sudah enak.

seblak

Seblak di sebuah etalase pinggir jalan Babakan Jeruk, Rp7.000

  • Seblak streetfood Kota Bandung = 5
  • Seblak streetfood Jakarta = 3

5. Bakso Tahu alias Siomay Bandung

Saat di alun-alun Kota Bandung, saya menemukan penjual bakso tahu. Awalnya saya kira bakso tahu itu ya seperti bakso biasa, tapi ternyata di Bandung bakso tahu itu adalah siomay tahu. Nah soal siomay, memang Bandung jauh lebih enak daripada yang di Jakarta (bedakan Siomay Bandung dengan Siomay Medan ya, di sini yang sedang saya bicarakan adalah siomay Bandung streetfood atau gerobakan, yang di restoran tidak dihitung). Di Jakarta, siomay yang dijual gerobakan kurang saya sukai, karena seperti makan aci yang dikukus dengan bumbu kacang. Di Kota Bandung, meskipun dijual gerobakan, tapi siomaynya enak. Ikannya terasa. Dan yang penting, lagi-lagi, harganya masih jauh lebih murah daripada yang di Jakarta. Kali ini Bandung menang telak.

baso tahu

Bakso tahu, siomay, dan kol. Rp10.000 untuk 6 pcs.

  • Baso Tahu / Siomay streetfood Kota Bandung = 4
  • Baso Tahu / Siomay streetfood Jakarta = 1

6. Batagor

Batagor adalah singkatan dari Baso Tahu Goreng. Simpelnya, ya siomay Bandung yang digoreng. Saya to the point saja deh, batagor gerobakan di Kota Bandung masih menang daripada batagor gerobakan di Jakarta. Deskripsinya persis seperti yang bagian siomay. Plus masih dengan harga yang jauh lebih murah. Jakarta masih kalah telak soal batagor.

batagor bandung

Batagor di depan Fulmar (Elegance Room). Rp6.000 dapat 4 pcs.

Bagi yang belum tahu, batagor itu “ditemukan” pada tahun 1973 oleh seorang pedagang bakso tahu di Bandung yang bernama Ihsan. Ceritanya dagangan bakso tahunya tidak laku, sehingga ia goreng dan ia bagikan secara gratis kepada tetangga-tetangganya. Tidak disangka, ternyata tetangganya menyukai bakso tahu yang digoreng. Ihsan pun mencoba untuk menjual bakso tahu yang digoreng, dan ternyata laku keras!

Oh iya, yang unik, batagor di Bandung ada dua versi, yang disiram bumbu kacang atau yang disiram (mirip seperti cuanki). Dua-duanya sama enaknya.

batagor kuah

  • Batagor streetfood Kota Bandung = 4
  • Batagor streetfood Jakarta = 2

7. Cuanki

Berasal dari “cari uang kanan kiri” karena penjual cuanki memang berkeliling ke gang demi gang untuk berjualan. Cuanki itu sebenarnya ya seperti bakso sapi, bedanya penjual cuanki biasanya pikulan, bukan gerobakan. Khusus cuanki, sepertinya baik Jakarta atau Kota Bandung sama enaknya. Bedanya di Jakarta disediakan bihun supaya lebih kenyang, sedangkan di Bandung bakso cuankinya lebih besar.

cuanki bandung

  • Cuanki streetfood Kota Bandung = 3
  • Cuanki streetfood Jakarta = 3

Itu dulu perbandingan saya soal streetfood khas Kota Bandung melawan versi Jakartanya. Dan dari cicip-cicip di atas, simpulannya, meskipun jajanan khas Bandung sudah banyak dijual di Jakarta, tetap versi asli Bandungnya yang lebih enak.

Well, sekian dulu tulisan singkat ini. Happy loving Indonesia!

garvin Ada 3 hal yang paling ia suka: budaya, sejarah, dan mendaki gunung. Ia dapat dihubungi melalui @garvingoei.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *